Breaking News
13:08

Bukan Sekadar Magang! Doris Alexander Rihi Apresiasi Inovasi E-APEL Karya Mahasiswi STIKOM Artha Buana

Bagikan
Lihat Tersimpan

KUPANG, NARATOR NTT —12 Oktober 2026 – Magang mahasiswa tidak boleh berhenti pada rutinitas administratif, laporan akhir, atau sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Magang harus menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata, tempat mahasiswa menguji kompetensi, membaca persoalan, serta melahirkan gagasan yang berpotensi memberi manfaat bagi organisasi dan pembangunan daerah.

Semangat itulah yang tercermin dalam prototipe aplikasi E-Apel, karya Maria Anita Ngala, mahasiswi magang asal STIKOM Artha Buana Kupang, yang dikembangkan berdasarkan penelitian dan pengamatan terhadap kebutuhan riil Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga: Mahasiswi Magang STIKOM Artha Buana Tinggalkan Inovasi E-Apel dan Sikma di Dinas Parekraf NTT

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Doris Alexander Rihi, mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, nilai penting dari karya Maria bukan semata-mata terletak pada penggunaan teknologi, tetapi pada proses yang melatarbelakanginya: mengidentifikasi kebutuhan organisasi dan menerjemahkannya menjadi sebuah rancangan solusi digital.

Doris menegaskan bahwa E-Apel saat ini masih berstatus prototipe, bukan aplikasi yang telah resmi diterapkan sebagai sistem absensi ASN. Karena itu, karya tersebut perlu dipandang sebagai langkah awal inovasi yang masih membutuhkan pengujian, penyempurnaan, dan evaluasi sebelum dipertimbangkan untuk digunakan secara operasional.

Meski demikian, status prototipe tidak mengurangi nilai pembelajaran dan potensi inovasi yang ditunjukkan oleh Maria Anita Ngala. Justru, pada tahap inilah sebuah gagasan dapat diuji secara sistematis, diperbaiki berdasarkan kebutuhan pengguna, dan dipersiapkan agar memiliki manfaat yang terukur.

E-Apel: Prototipe untuk Menjawab Persoalan Disiplin ASN

E-Apel dirancang sebagai solusi digital untuk mendukung pengawasan disiplin ASN, khususnya dalam pelaksanaan apel kekuatan. Prototipe ini memuat sejumlah fitur yang dirancang untuk membantu proses verifikasi kehadiran, meliputi pemindaian wajah, pengaturan waktu absensi, penentuan koordinat lokasi apel, serta penghitungan jumlah peserta secara real-time.

Melalui rancangan fitur tersebut, E-Apel diarahkan untuk membantu mencocokkan identitas peserta, waktu pencatatan, dan lokasi pelaksanaan apel. Tujuannya adalah memperkuat akurasi data kehadiran sekaligus mengurangi peluang ketidaksesuaian antara absensi yang tercatat dan kehadiran aktual di lapangan.

Persoalan yang hendak dijawab cukup konkret: bagaimana memastikan bahwa ASN yang tercatat hadir benar-benar mengikuti apel, bukan sekadar melakukan absensi melalui mesin fingerprint atau pencatatan manual, kemudian meninggalkan lokasi kegiatan.

Baca Juga : Family Time Tak Harus Jauh Dan Mahal Kolam Renang Sasando Hotel Pilihan Tepat

Dalam konteks itu, E-Apel menawarkan gagasan pengawasan yang lebih terintegrasi. Namun, kemampuan mendeteksi ketidaksesuaian kehadiran, ketepatan penghitungan peserta secara waktu nyata, serta efektivitas mekanisme perlindungannya masih perlu dibuktikan melalui pengujian dan validasi teknis.

Dengan kata lain, E-Apel merupakan prototipe yang menjanjikan sebagai gagasan solusi, tetapi efektivitasnya belum dapat disamakan dengan sistem operasional yang telah teruji.

Doris mendorong agar prototipe tersebut memperoleh ruang untuk dikaji dan dikembangkan lebih lanjut. Apabila hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem bekerja secara akurat, aman, dan sesuai ketentuan, E-Apel dapat dipertimbangkan untuk mendukung penguatan disiplin ASN di lingkungan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Lebih jauh, Doris juga mendorong agar potensi pengembangan aplikasi ini dikaji untuk kemungkinan pemanfaatan dalam kegiatan apel bersama di lingkup Pemerintah Provinsi NTT.

Akan tetapi, perluasan penggunaan tersebut bukan sesuatu yang otomatis terjadi. Dibutuhkan penyempurnaan perangkat lunak, pengujian keamanan, perlindungan data pribadi, kesiapan infrastruktur, serta evaluasi terhadap kebutuhan dan mekanisme kerja masing-masing perangkat daerah.

Dengan pendekatan itu, prototipe E-Apel dapat menempuh jalur pengembangan yang bertanggung jawab: berangkat dari gagasan, diuji berdasarkan kebutuhan nyata, disempurnakan melalui evaluasi, dan baru dipertimbangkan untuk diterapkan apabila memenuhi persyaratan.

Mahasiswa Magang Bukan Sekadar Pelengkap Administrasi

Kisah pengembangan prototipe E-Apel membawa pesan penting tentang posisi mahasiswa magang dalam lingkungan pemerintahan.

Mahasiswa tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai pelengkap administrasi atau tenaga tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan rutin. Mereka datang dengan bekal ilmu pengetahuan, keterampilan digital, perspektif baru, dan kapasitas yang dapat diarahkan untuk membantu memecahkan persoalan organisasi.

Pada saat yang sama, kantor pemerintahan harus mampu menjadi ruang pembelajaran yang sesungguhnya. Bukan hanya tempat mahasiswa menyaksikan bagaimana birokrasi bekerja, melainkan juga lingkungan yang memungkinkan mereka mengidentifikasi persoalan, menguji pengetahuan, menyampaikan gagasan, dan mengembangkan solusi di bawah pendampingan yang memadai.

Apa yang dilakukan Maria Anita Ngala memperlihatkan proses pembelajaran yang bergerak melampaui pemenuhan kewajiban akademik. Melalui pengamatan terhadap kebutuhan dinas, ia berupaya menerjemahkan persoalan organisasi menjadi rancangan aplikasi yang dapat dikaji lebih lanjut.

Di sinilah makna strategis magang mahasiswa: kampus membekali mahasiswa dengan fondasi keilmuan, sementara instansi pemerintah menghadirkan persoalan nyata sebagai ruang penerapan. Kolaborasi keduanya dapat membuka peluang lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.

Mahasiswa magang bukan semata-mata pihak yang datang untuk belajar dari kantor. Mereka juga dapat menjadi mitra dalam proses pencarian solusi, selama gagasan mereka diberi ruang, diuji secara objektif, dan dikembangkan melalui pendampingan yang tepat.

Baca Juga : Dari Moni, Legalitas UMKM Diperkuat: 41 NIB dan 7 P-IRT Berhasil Difasilitasi Dinas Parekraf NTT

Karena itu, keberhasilan program magang tidak semestinya hanya diukur dari kehadiran mahasiswa, penyelesaian laporan, atau penerbitan sertifikat. Perlu pula dilihat kemampuan mahasiswa memahami persoalan, mengembangkan kompetensi, serta menghasilkan gagasan yang memiliki potensi manfaat bagi institusi dan masyarakat.

Prototipe Boleh Berkembang, Pengakuan atas Pencipta Tidak Boleh Hilang

Selain mendorong pengembangan inovasi, pengakuan terhadap penciptanya menjadi prinsip penting yang perlu dijaga.

Maria Anita Ngala dan STIKOM Artha Buana Kupang perlu memperoleh pengakuan yang layak atas kontribusi dalam pengembangan prototipe E-Apel, sesuai dokumentasi proses, kontribusi masing-masing pihak, dan ketentuan kekayaan intelektual yang berlaku.

Apabila prototipe tersebut nantinya disempurnakan oleh dinas atau dikembangkan bersama pihak lain, riwayat pengembangan, identitas pencipta, asal institusi, serta pembagian kontribusi perlu didokumentasikan secara jelas. Penggunaan lebih luas oleh pemerintah juga perlu disertai pengaturan yang tepat mengenai hak atas perangkat lunak dan izin pemanfaatannya.

Dengan demikian, kepentingan pemerintah untuk mengembangkan inovasi demi peningkatan tata kelola tidak berjalan dengan mengabaikan hak dan kontribusi mahasiswa maupun institusi pendidikan.

Pengakuan tersebut juga menjadi pesan bagi mahasiswa lainnya bahwa karya yang lahir dari proses magang memiliki nilai. Gagasan mereka dapat dipertimbangkan untuk pengembangan lebih lanjut tanpa harus menghapus jejak intelektual orang-orang yang memulainya.

Dari Prototipe Menuju Manfaat Nyata

E-Apel saat ini masih berada pada tahap prototipe. Masih ada proses yang harus dilalui sebelum aplikasi tersebut dapat dinyatakan siap digunakan secara operasional. Namun, tahap awal ini telah membuka ruang diskusi tentang bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan pengawasan kehadiran ASN.

Nilai yang patut diapresiasi bukan klaim bahwa seluruh persoalan disiplin telah terselesaikan, melainkan keberanian untuk mengidentifikasi masalah dan menyusun rancangan solusi berdasarkan kebutuhan riil organisasi.

Baca Juga : Doris Alexander Rihi: Kelimutu Tak Boleh Berdiri Sendiri, Produk Ekraf Harus Menjadi Alasan Wisatawan Tinggal dan Berbelanja

Maria Anita Ngala datang sebagai mahasiswi magang. Melalui prototipe yang dikembangkannya, ia menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkontribusi sejak masih berada dalam proses pendidikan, tanpa harus menunggu menjadi pejabat, pemimpin organisasi, atau pengambil kebijakan.

Tugas institusi adalah membuka ruang bagi potensi tersebut, memberikan pendampingan, menguji gagasan secara objektif, dan memastikan bahwa setiap pengembangan dilakukan dengan tata kelola yang baik.

Magang tidak harus berakhir ketika masa praktik selesai. Sebuah prototipe dapat menjadi awal kolaborasi yang lebih panjang antara mahasiswa, kampus, dan pemerintah. Apabila dikembangkan melalui proses yang tepat, gagasan yang lahir dari ruang pembelajaran berpeluang tumbuh menjadi solusi yang bermanfaat bagi pelayanan publik dan pembangunan daerah.

Pada akhirnya, prototipe E-Apel menghadirkan satu pelajaran penting: inovasi tidak selalu dimulai dari sistem yang sudah sempurna. Inovasi dapat berawal dari keberanian mengamati persoalan, ketekunan meneliti kebutuhan, dan kemauan merancang solusi yang kemudian diuji serta disempurnakan.

Baca Juga : Dari Tuamese untuk TTU! Pemprov NTT Dorong Dodol dan Gula Semut Jadi Ikon Oleh-Oleh Daerah

Yang dibutuhkan berikutnya adalah proses pengembangan yang terukur, komitmen institusi untuk belajar dari gagasan baru, dan penghargaan yang layak terhadap penciptanya.

Sebab, magang yang bermakna bukan hanya tentang apa yang diperoleh mahasiswa dari kantor, tetapi juga tentang gagasan apa yang berhasil mereka sumbangkan dan peluang manfaat apa yang dapat dikembangkan bersama setelah masa magang berakhir.

Ringkas menjadi berita pers lebih tajam. Kurangi pengulangan status prototipe. Perkuat manfaat bagi tata kelola ASN (Kontributor : Paul.S

Foto: BPAD NTT
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *