KEFAMENANU- NARATOR NTT, 23 September 2026. Menindaklanjuti komitmen Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT untuk mendorong perputaran ekonomi warga desa wisata, Pemerintah Provinsi NTT secara resmi membuka kegiatan Pelatihan Bimbingan Teknis dan Pendampingan Ekonomi Kreatif di Desa Tuamese, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Rabu (23/9/2026).
BACA JUGA: DORIS RIHI PASANG TARGET BESAR: WISATAWAN DATANG, BELANJA, DAN TINGGALKAN UANG DI DESA!
Kegiatan yang digagas sebagai langkah konkret agar wisatawan tidak sekadar berfoto tetapi juga berbelanja ini dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTT, Dr. Drs. Zet Sony Libing, M.Si.
Dalam sambutannya, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTT menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan Visi dan Misi Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, melalui sepuluh Program Dasa Cita “Ayo Bangun NTT”. Upaya ini difokuskan pada penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal di tingkat desa.
“Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari program Dasa Cita dan Visi-Misi Bapak Gubernur NTT. Kita ingin mendorong terwujudnya konsep One Village One Product (OVOP) di setiap desa wisata. Dengan hadirnya produk unggulan khas di setiap desa, roda perekonomian masyarakat perdesaan akan bergerak lebih cepat dan mandiri,” ungkap Sony Libing.
Sony Libing juga menegaskan bahwa Desa Tuamese memiliki posisi strategis sebagai destinasi wisata dengan potensi yang sangat lengkap. Menurutnya, daya tarik Tuamese tidak hanya sebatas perbukitan yang indah dan pesisir pantai yang memikat, melainkan juga kekayaan komoditas lokalnya yang melimpah.
Wisatawan Jangan Cuma Foto! UMKM Didorong Tangkap Belanja Turis Agar Uang Berputar Di NTT
“Tuamese ini luar biasa. Kita punya pantai dan bentang bukit yang sangat indah. Tidak hanya itu, potensi produk lokalnya sangat lengkap, mulai dari produk minyak kayu putih hingga olahan pohon lontar seperti gula lempeng dan gula air,” ujarnya di hadapan para peserta pelatihan dan pemangku kepentingan setempat.
*Hilirisasi Saboak dan Nira: Inovasi Dodol serta Gula Semut Asli Tuamese*
Lebih lanjut, Asisten II Setda NTT menekankan pentingnya program hilirisasi produk lokal untuk memberikan nilai tambah (added value) bagi ekonomi warga. Selama ini, buah pohon lontar (saboak) dan nira kerap dimanfaatkan secara konvensional. Namun, melalui bimtek dan pendampingan ekraf ini, bahan baku tersebut ditransformasikan menjadi produk bernilai jual tinggi seperti gula semut dan dodol yang siap menembus pasar ekosistem NTT Mart.
BACA JUGA : TARGET 6, MELEDAK JADI 15 NIB! WORKSHOP EKRAF SBD BUKTIKAN KOLABORASI PEMPROV NTT TAK SEKADAR SEREMONI
Ia menggarisbawahi bahwa inovasi olahan ini sekaligus mematahkan stigma produk turunan yang selama ini diidentikkan dengan daerah lain.
“Selama ini masyarakat luas hanya mengenal gula semut itu identik dari Rote, padahal sekarang Desa Tuamese juga terbukti mampu memproduksi gula semut berkualitas. Demikian juga dengan dodol; secara nasional orang selalu mengingat Dodol Garut. Mulai hari ini, kita buktikan bahwa Dodol Tuamese hadir menjadi ciri khas tersendiri sebagai produk olahan asli dari bumi NTT,” tegasnya penuh optimisme.
Program hilirisasi ini terbukti mengandalkan buah lontar (saboak) dan nira untuk diubah menjadi olahan dodol serta gula semut, sehingga mengangkat harga jual produk dan pendapatan petani/pengrajin lokal secara signifikan.
*Membangun Narasi Identitas Produk Lokal*
Guna memenangkan persaingan pasar oleh-oleh, Pemprov NTT mendorong para peserta pelatihan untuk tidak hanya menguasai teknik produksi, tetapi juga lihai dalam menyusun narasi (storytelling) produk.
“Kita harus membuat narasi yang kuat untuk Dodol Tuamese dan Gula Semut Tuamese. Ceritakan prosesnya, kearifan lokalnya, dan keunikan rasanya agar produk kita memiliki diferensiasi yang jelas dan berbeda dari dodol maupun gula semut yang diproduksi dari daerah lain,” tambahnya.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan mulai dari pengolahan, bantuan hibah peralatan, pengemasan, legalitas usaha (NIB), hingga fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), pemerintah optimistis Desa Tuamese akan siap menyambut kunjungan wisatawan, tak hanya dengan pemandangan lanskapnya yang menawan, tetapi juga dengan oleh-oleh khas berbasis OVOP yang menggerakkan roda ekonomi masyarakat desa. (Kontributor Krisna B.)





Tinggalkan Balasan