Breaking News
14:12

Doris Alexander Rihi: Kelimutu Tak Boleh Berdiri Sendiri, Produk Ekraf Harus Menjadi Alasan Wisatawan Tinggal dan Berbelanja

Bagikan
Lihat Tersimpan

ENDE, NARATOR NTT, 07 Oktober 2026 ||— Danau Kelimutu telah lama menjadi magnet pariwisata Kabupaten Ende dan bahkan telah dikenal hingga ke mancanegara. Namun, popularitas Kelimutu tidak boleh membuat potensi pariwisata lainnya berhenti berkembang. Justru karena Kelimutu telah mendunia, kawasan Moni dan Kabupaten Ende harus mampu menghadirkan lebih banyak alasan bagi wisatawan untuk datang, tinggal lebih lama, dan membelanjakan uangnya di tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Doris Alexander Rihi, ketika membuka Workshop Standardisasi Kualitas Produk Ekonomi Kreatif UMKM di Desa Wisata Koanara, Kecamatan Moni, Kabupaten Ende.

Baca Juga : TARGET 6, MELEDAK JADI 15 NIB! WORKSHOP EKRAF SBD BUKTIKAN KOLABORASI PEMPROV NTT TAK SEKADAR SEREMONI

Menurut Doris, kekuatan pariwisata tidak boleh hanya bertumpu pada satu ikon. Kelimutu memang memiliki daya tarik luar biasa, tetapi destinasi yang kuat adalah destinasi yang mampu membangun ekosistem pengalaman wisata secara utuh.

“Moni dengan kekuatan wisata utamanya Danau Kelimutu yang telah mendunia, tidak boleh menjadikan Kelimutu sebagai satu-satunya ikon. Kita harus menciptakan dan mengkreasikan potensi-potensi lainnya yang dapat memperkuat, bahkan menyempurnakan keindahan dan kekuatan Kelimutu,” tegas Doris.

Bagi Doris, kehadiran desa wisata tidak cukup hanya dengan label atau status sebagai desa wisata. Desa wisata harus mampu menghadirkan pengalaman, produk dan aktivitas ekonomi yang membuat wisatawan mempunyai alasan untuk tidak sekadar datang, mengambil gambar, kemudian pergi.

Karena itu, produk ekonomi kreatif masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan destinasi.

“Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat destinasi. Mereka juga membutuhkan sesuatu yang dapat mereka bawa pulang, mereka nikmati, mereka ceritakan, dan mereka rekomendasikan. Karena itu, kehadiran desa wisata harus didukung oleh produk yang juga menjadi alasan wisatawan datang berkunjung, menetap dan membelanjakan uangnya,” ujar Doris.

WhatsApp Image 2026 10 07 At 14.18.26
Dok Foto: Paul S

Pariwisata Harus Menggerakkan Rantai Ekonomi

Doris menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT tidak ingin membangun pariwisata yang berhenti pada jumlah kunjungan. Ukuran keberhasilan pariwisata harus bergerak lebih jauh, yakni bagaimana kunjungan wisatawan menciptakan perputaran ekonomi di tengah masyarakat lokal.

Dalam kerangka tersebut, Pemerintah Provinsi NTT mendorong pelaksanaan Program Dasa Cita, antara lain melalui gagasan “Dari Laut dan Ladang ke Pasar”, “Pariwisata NTT Penggerak Ekonomi Lokal”, serta pendekatan ekonomi kreatif melalui konsep One Village One Product (OVOP).

Ketiga pendekatan tersebut, menurut Doris, harus menjadi jembatan yang menghubungkan potensi lokal dengan kebutuhan pasar wisata.

Pariwisata tidak boleh berdiri sendiri. Pertanian, perikanan, perkebunan, kuliner, kerajinan, tenun, seni dan berbagai produk kreatif masyarakat harus masuk ke dalam ekosistem pariwisata.

“Program ini bukan sekadar menghubungkan ekspektasi wisatawan dengan destinasi. Lebih dari itu, kita ingin membangun rantai ekonomi, dengan pariwisata sebagai lokomotifnya. Produk masyarakat masuk ke pasar, wisatawan menjadi konsumen, dan uang yang dibelanjakan wisatawan berputar kembali di tengah masyarakat,” jelas Doris.

Dengan pendekatan tersebut, desa wisata tidak diposisikan hanya sebagai tempat yang dikunjungi, tetapi sebagai ruang produksi, ruang kreativitas dan ruang pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Legalitas Produk, Membangun Kepercayaan Pasar

Workshop Standardisasi Kualitas Produk Ekonomi Kreatif UMKM di Desa Wisata Koanara merupakan keberlanjutan dari Pelatihan Pengembangan Produk Ekonomi Kreatif yang telah dilaksanakan pada tahun 2025.

Jika pada tahap sebelumnya masyarakat didorong untuk menghasilkan dan mengembangkan produk, maka tahap berikutnya adalah memastikan produk tersebut memiliki legalitas usaha dan legalitas produk yang diperlukan.

Doris menegaskan bahwa legalitas bukan sekadar administrasi.

Legalitas merupakan bagian penting dari upaya membangun kepercayaan konsumen dan memperluas akses produk masyarakat menuju pasar yang lebih besar.

“Kita tidak ingin UMKM hanya mampu memproduksi. Kita ingin produk itu memiliki kualitas, memiliki identitas, memiliki legalitas dan mampu bersaing. Legalitas adalah bagian dari jaminan untuk membangun kepercayaan masyarakat, termasuk wisatawan yang datang ke Ende,” katanya.

Karena itu, pembinaan UMKM tidak boleh berhenti pada pelatihan. Pemerintah harus memastikan adanya pendampingan dari hulu sampai hilir: mulai dari ide dan bahan baku, proses produksi, standardisasi kualitas, kemasan, legalitas, pemasaran hingga akses pasar.

Ende: Destinasi yang Lebih dari Sekadar Kelimutu

Kabupaten Ende sendiri memiliki modal pariwisata yang jauh lebih besar daripada satu destinasi.

Ende memiliki bentang alam yang beragam, kekayaan budaya, sejarah, tradisi masyarakat, kehidupan desa, ekonomi kreatif serta potensi wisata minat khusus yang dapat dikembangkan menjadi satu kesatuan pengalaman perjalanan.

Kelimutu merupakan magnet utama. Namun magnet itu harus dihubungkan dengan berbagai daya tarik lainnya sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan untuk menikmati Ende.

Baca Juga : DPRD TTU Datang Membawa Agenda Besar: Buka Jalan Pariwisata Kawasan Hutan Menuju Destinasi Nasional

Desa Wisata Koanara dan kawasan Moni karena itu memiliki posisi strategis. Keberadaan desa wisata harus mampu menjadi ruang yang mempertemukan alam, budaya, kreativitas dan ekonomi masyarakat.

Wisatawan yang datang menikmati Kelimutu tidak berhenti pada pengalaman melihat panorama alam. Mereka juga dapat mengenal kehidupan masyarakat, menikmati kuliner lokal, membeli produk UMKM, mengenal kerajinan dan budaya, serta memperoleh pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Dengan demikian, Kelimutu bukan titik akhir perjalanan, tetapi pintu masuk menuju pengalaman Ende yang lebih luas.

Dari Destinasi Menuju Ekosistem

Doris menegaskan, pembangunan pariwisata NTT harus bergerak dari cara pandang lama yang hanya menghitung jumlah objek dan jumlah kunjungan menuju pembangunan ekosistem pariwisata.

Baca Juga : PAD Sabu Raijua Dibidik Naik! Pemprov NTT Dukung Insentif PNBP untuk Tarik Kendaraan Beralamat Luar Daerah

Dalam ekosistem tersebut, destinasi menyediakan pengalaman, masyarakat menyediakan produk dan kreativitas, pelaku usaha menyediakan layanan dan akses pasar, sementara pemerintah hadir sebagai penggerak, fasilitator dan penghubung.

“Kita ingin pariwisata benar-benar hadir di tengah masyarakat. Ketika wisatawan datang, manfaat ekonominya harus terasa. Ketika mereka makan, ada masyarakat yang mendapatkan manfaat. Ketika mereka membeli produk, ada UMKM yang tumbuh. Ketika mereka menginap, ada tenaga kerja lokal yang bekerja. Inilah pariwisata sebagai penggerak ekonomi lokal,” pungkas Doris.

Dari Koanara, pesan itu menjadi semakin jelas: Kelimutu boleh menjadi pintu masuk, tetapi masyarakat Ende harus menjadi bagian dari alasan wisatawan untuk tinggal lebih lama.

Sebab destinasi yang kuat bukan hanya destinasi yang indah untuk dilihat, tetapi destinasi yang mampu mengubah keindahan menjadi pengalaman, pengalaman menjadi konsumsi, konsumsi menjadi pendapatan, dan pendapatan menjadi kesejahteraan masyarakat. (Kontributor: Paul. S

Penulis

admin

Satu tanggapan untuk “Doris Alexander Rihi: Kelimutu Tak Boleh Berdiri Sendiri, Produk Ekraf Harus Menjadi Alasan Wisatawan Tinggal dan Berbelanja”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *