Dua Hari, 15 UMKM Kantongi Legalitas Usaha dan 2 SPP-IRT Terbit — Dari Pelatihan Langsung Naik Kelas
SUMBA BARAT DAYA – NARATOR NTT,19 September 2026 — Target hanya enam pelaku UMKM. Namun hasil di lapangan justru menembus angka 15.
Workshop Standardisasi Kualitas Produk Ekonomi Kreatif yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kabupaten Sumba Barat Daya pada 15–16 September 2026 membuktikan bahwa program pemberdayaan UMKM tidak harus berhenti di ruang pelatihan.
Dalam dua hari, kegiatan tersebut berhasil memfasilitasi 15 pelaku UMKM memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB). Tak hanya itu, turut difasilitasi penerbitan 2 Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT).
Capaian tersebut bahkan melampaui target awal sebanyak enam UMKM.
Target 6, terealisasi 15. Sebuah capaian yang sekaligus menjadi bukti bahwa ketika pelatihan, pelayanan, pendampingan dan kolaborasi lintas perangkat daerah berjalan dalam satu irama, manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Drs. Doris Alexander Rihi, memberikan apresiasi atas dukungan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dalam menghadirkan pelayanan legalitas bagi pelaku usaha.

Menurut Doris, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa penguatan ekonomi kreatif tidak boleh berhenti pada penyampaian materi dan pelatihan.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada DPMPTSP yang telah memberikan dukungan dalam kegiatan penguatan kapasitas pelaku usaha, khususnya dalam aspek legalitas usaha dan hasil usaha atau produk UMKM. Capaian ini menunjukkan bahwa ketika kita bekerja bersama, hasilnya bisa melampaui target yang ditetapkan,” ujar Doris.
BUKAN SEKADAR PUNYA PRODUK, TAPI HARUS PUNYA LEGALITAS
Bagi pelaku UMKM, memiliki produk saja tidak cukup.
Produk lokal harus memiliki legalitas, memenuhi standar, menjaga kualitas dan memiliki kemampuan untuk menjawab kebutuhan pasar.
Karena itu, penerbitan NIB dan SPP-IRT dalam workshop tersebut menjadi bagian penting dari proses mendorong UMKM NTT agar semakin siap memasuki pasar yang lebih luas.
Doris menegaskan, NIB dan SPP-IRT bukanlah garis akhir. Sebaliknya, keduanya harus menjadi pintu masuk menuju peningkatan kualitas usaha.
NIB memberikan identitas legal bagi pelaku usaha sekaligus menjadi fondasi untuk mengembangkan bisnis. Sementara SPP-IRT menjadi bagian penting bagi pelaku usaha pangan rumah tangga dalam membangun kepercayaan terhadap produk yang dihasilkan, sepanjang persyaratan yang berlaku dipenuhi.
“Dengan diperolehnya NIB dan SPP-IRT, kita ingin UMKM semakin terdorong untuk meningkatkan bukan saja kuantitas produk, tetapi juga kualitas dan kontinuitas usaha serta produksinya. Legalitas harus diikuti dengan kemauan untuk terus belajar, memperbaiki produk dan memperluas pasar,” tegas Doris.
LEGALITAS BUKAN UNTUK DISIMPAN, TAPI UNTUK NAIK KELAS
Pesan utama dari workshop ini jelas: jangan berhenti setelah mendapatkan dokumen legalitas.
NIB harus menjadi awal pembenahan manajemen usaha. SPP-IRT harus menjadi bagian dari komitmen menjaga mutu dan keamanan produk. Sementara standardisasi kualitas harus diterapkan dalam proses produksi sehari-hari.
Persaingan pasar juga tidak hanya ditentukan oleh harga.
Baca Juga : Dari Saboak dan Nira, Sabu Raijua Bidik Pasar Nasional hingga Internasional
Kemasan, kualitas bahan baku, keamanan pangan, konsistensi produksi, identitas produk, legalitas, hingga kemampuan memenuhi permintaan pasar menjadi faktor penting agar produk lokal mampu bersaing.
“Jangan sampai legalitas hanya menjadi dokumen yang disimpan. Legalitas harus menjadi energi baru bagi pelaku usaha untuk naik kelas,” kata Doris.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa orientasi pengembangan ekonomi kreatif NTT diarahkan bukan hanya untuk memperbanyak jumlah pelaku usaha, tetapi juga membangun ekosistem UMKM yang semakin tertib, berkualitas dan berdaya saing.
15 NIB, 2 SPP-IRT: KOLABORASI PEMPROV NTT TURUN LANGSUNG KE HASIL
Capaian di Sumba Barat Daya juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antarperangkat daerah.
Pelaku UMKM membutuhkan pelayanan pemerintah yang tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka membutuhkan rangkaian dukungan yang saling terhubung, mulai dari peningkatan kapasitas, pendampingan produksi, legalitas, standardisasi, pengemasan, pemasaran, akses pasar hingga pembiayaan.
Dalam konteks tersebut, sinergi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan DPMPTSP menjadi contoh bagaimana program pemerintah dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang menghasilkan manfaat langsung.
Doris menyebut kolaborasi tersebut merupakan bagian dari semangat kerja bersama yang terus didorong oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT.
“Ini adalah bentuk sinergitas positif dan kerja kolaborasi yang selalu didorong oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Setiap perangkat daerah harus mengambil peran sesuai tugasnya dan kemudian menyatukan kekuatan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ungkapnya.
Ia berharap pola kolaborasi tersebut dapat terus diperkuat dan diterapkan di kabupaten lainnya di NTT.
Pasalnya, daerah ini memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar. Tantangannya adalah bagaimana produk-produk lokal tersebut dipersiapkan agar mampu masuk pasar secara legal, aman, berkualitas dan berkelanjutan.
DARI SUMBA BARAT DAYA, UMKM NTT DITANTANG JADI PEMAIN PASAR
Capaian 15 NIB dan 2 SPP-IRT dalam dua hari bukan sekadar angka administratif.
Di balik angka tersebut terdapat pesan bahwa program pemberdayaan UMKM dapat memberikan hasil konkret ketika pelayanan, pendampingan dan kolaborasi dilakukan secara bersamaan.
Namun pekerjaan belum selesai.
Legalitas adalah awal. Standardisasi adalah proses. Kualitas adalah komitmen. Kontinuitas adalah tantangan.
Keberhasilan program pada akhirnya akan semakin bermakna ketika UMKM mampu memproduksi secara konsisten, menjaga kualitas, memperluas pasar, meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan kerja di daerahnya.
Dari Sumba Barat Daya, pesan itu kembali digaungkan:
UMKM NTT tidak boleh hanya menjadi penonton pasar. Produk lokal harus dipersiapkan untuk menjadi pemain. (Kontributor: Paul.S)






[…] News Wisatawan Jangan Cuma Foto! UMKM Didorong Tangkap Belanja Turis Agar Uang Berputar Di NTT TARGET 6, MELEDAK JADI 15 NIB! WORKSHOP EKRAF SBD BUKTIKAN KOLABORASI PEMPROV NTT TAK SEKADAR SEREMO… Hari Lalu Lintas Ke-71, Pembina Samsat NTT Bersinergi, Edukasi Warga Tertib Lalin Dan Patuh Pajak […]
[…] BACA JUGA : TARGET 6, MELEDAK JADI 15 NIB! WORKSHOP EKRAF SBD BUKTIKAN KOLABORASI PEMPROV NTT TAK SEKADAR SEREMO… […]