Breaking News
13:23

Dari Kebun Sekolah, SMKN 7 Ende Menanam Masa Depan Pariwisata Ende

nde Menanam Masa Depan Pariwisata Ende
Bagikan
Lihat Tersimpan

Doris Alexander Rihi: Jangan Berhenti pada Tomat Segar, Naikkan Nilainya Menjadi Produk yang Dibutuhkan Wisatawan

ENDE, NARATOR NTT- 7 Oktober 2026|| — Pariwisata tidak hanya membutuhkan pemandangan yang indah. Pariwisata juga membutuhkan tangan-tangan terampil yang mampu mengubah apa yang tumbuh di tanah sendiri menjadi produk bernilai, bercita rasa, memenuhi standar, dan dibutuhkan oleh wisatawan.
Pesan itulah yang dibawa Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur, Drs. Doris Alexander Rihi, ketika menyambangi SMKN 7 Ende di Kecamatan Moni, Kabupaten Ende, Rabu (7/10/2026), di sela-sela kunjungannya mewakili Gubernur NTT dalam Pembukaan Workshop Standardisasi Kualitas Produk UMKM.

Baca Juga: Doris Alexander Rihi: Kelimutu Tak Boleh Berdiri Sendiri, Produk Ekraf Harus Menjadi Alasan Wisatawan Tinggal dan Berbelanja

Kunjungan tersebut bukan sekadar kunjungan biasa.
Doris melihat langsung bagaimana keluarga besar SMKN 7 Ende menerjemahkan semangat One School One Product (OSOP) ke dalam aktivitas nyata. Lahan pekarangan sekolah yang luas disulap menjadi kebun tomat yang produktif. Tanaman tumbuh subur dan menghasilkan panen yang melimpah. Doris bahkan berkesempatan melakukan pemanenan secara langsung.

Di tengah kebun tomat itu, ada satu pesan penting yang ingin ditegaskan Doris: pendidikan vokasi tidak boleh berhenti pada kemampuan menghasilkan sesuatu. Pendidikan harus membekali siswa dengan kemampuan menciptakan nilai. Doris memberikan apresiasi terhadap inovasi keluarga besar SMKN 7 Ende yang mampu memanfaatkan lahan sekolah menjadi ruang belajar sekaligus ruang produksi.

Namun, menurutnya, keberhasilan tersebut jangan berhenti pada kemampuan menghasilkan tomat segar.
“Tomat ini jangan hanya berhenti sebagai tomat segar. Harus kita pikirkan bagaimana mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah, lebih tahan lama, memiliki standar kualitas, dan bisa menjadi bagian dari kebutuhan wisatawan,” demikian pesan Doris. Bagi Doris, di situlah letak pentingnya keterhubungan antara sekolah, produk lokal, ekonomi kreatif dan pariwisata.

Baca Juga : SASANDO INTERNATIONAL HOTEL: KETIKA SENJA MENJADI SEBUAH PENGALAMAN

Moni Bukan Sekadar Tempat Wisata, tetapi Pasar yang Harus Dibaca
Posisi SMKN 7 Ende di kawasan Moni memiliki arti strategis. Sekolah ini berada di salah satu kawasan yang menjadi pintu penting menuju Kelimutu, destinasi pariwisata yang telah menjadi ikon Ende sekaligus salah satu daya tarik utama NTT. Setiap wisatawan yang datang ke kawasan Kelimutu tidak hanya membutuhkan destinasi untuk dikunjungi. Mereka juga membutuhkan makanan, minuman, oleh-oleh, cendera mata, produk lokal, pengalaman budaya, serta berbagai kebutuhan lain selama melakukan perjalanan.

Di titik inilah, kata Doris, masyarakat dan dunia pendidikan harus mampu membaca peluang.Wisataw an datang membawa kebutuhan. Pertanyaannya, siapa yang akan memenuhi kebutuhan itu?Jangan sampai wisatawan datang ke Moni, menikmati keindahan Kelimutu, kemudian kebutuhan mereka justru dipenuhi oleh produk yang didatangkan dari luar daerah.

“Kalau kita memiliki bahan baku, memiliki anak-anak muda, memiliki sekolah vokasi dan memiliki pasar wisatawan, maka semuanya harus kita hubungkan. Jangan sampai potensi ada di sini, tetapi nilai ekonominya justru dinikmati oleh pihak lain,” tegas Doris. Karena itu, keberadaan OSOP di SMKN 7 Ende menurutnya harus dipandang lebih jauh daripada sekadar kegiatan bercocok tanam.

Baca Juga : DARI LONTAR KE PASAR NASIONAL! SABOAK & NIRA TUAMESE “NAIK KELAS”, LODY ADU & ADELCI TITIP PESAN UNTUK PEMPROV NTT

Kebun tomat adalah ruang belajar. Panen adalah pengalaman produksi. Pengolahan adalah proses penciptaan nilai. Dan pasar wisatawan adalah ruang aktualisasi keterampilan siswa.
Dari tomat, misalnya, siswa dapat belajar bagaimana menghasilkan produk olahan yang memiliki daya simpan, kemasan yang menarik, standar keamanan pangan, identitas produk, hingga strategi pemasaran. Dengan demikian, sekolah bukan hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga generasi muda yang memiliki keterampilan, kreativitas dan keberanian untuk menciptakan peluang ekonomi.

Dok Foto Paul S.

Kelimutu Membutuhkan Anak-Anak Muda yang Terampil
Doris menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak cukup hanya dengan membangun destinasi. Destinasi yang indah harus berjalan beriringan dengan kualitas sumber daya manusia. Kawasan Kelimutu dan Moni akan terus membutuhkan tenaga terampil: pengolah pangan, barista, koki, pemandu wisata, pengelola homestay, pengrajin, fotografer, pengelola konten digital, pelaku usaha oleh-oleh, hingga tenaga yang mampu mengembangkan produk lokal menjadi produk pariwisata.

Kebutuhan tersebut merupakan ruang yang dapat diisi oleh generasi muda Ende, khususnya para siswa sekolah vokasi. Karena itu, menurut Doris, keterampilan yang diberikan kepada siswa harus semakin dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan. “Anak-anak kita harus disiapkan bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk membaca kebutuhan pasar dan menciptakan pekerjaan.”

Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika pariwisata Ende terus berkembang. Kehadiran wisatawan harus mampu menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang dan memberi manfaat kepada masyarakat sekitar. Dari kebun sekolah, siswa belajar produksi. Dari dapur, mereka belajar pengolahan.Dari kemasan, mereka belajar kreativitas.Dari standardisasi, mereka belajar kualitas. Dari wisatawan, mereka belajar pasar. Dan dari semua itu, mereka belajar satu hal penting: bahwa potensi lokal akan bernilai apabila diolah dengan pengetahuan, keterampilan dan keberanian untuk berinovasi. Menanam Tomat, Menanam Masa Depan.

Dari Saboak dan Nira, Sabu Raijua Bidik Pasar Nasional hingga Internasional

Kunjungan Doris ke SMKN 7 Ende akhirnya membawa makna yang lebih besar daripada sekadar memanen tomat. Ada sebuah gagasan yang sedang ditanam: bahwa sekolah dapat menjadi bagian dari ekosistem pariwisata. OSOP tidak harus dipahami sebagai slogan. Ia harus menjadi gerakan yang membuat setiap sekolah menemukan potensi terbaiknya, mengolahnya menjadi produk, kemudian menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat dan pasar. Dan di Moni, pasar itu sudah berada di depan mata.

Kelimutu tidak hanya menawarkan keindahan untuk dipandang. Ia juga menghadirkan peluang ekonomi yang harus ditangkap oleh masyarakat setempat. Karena itu, ketika wisatawan datang ke Kelimutu, harapannya bukan sekadar mereka membawa pulang foto. Mereka juga membawa pulang produk-produk lokal. Dan yang jauh lebih penting, uang yang mereka belanjakan meninggalkan jejak ekonomi bagi masyarakat Ende. Dari kebun tomat SMKN 7 Ende, pesan itu terasa sederhana tetapi kuat:
Pariwisata tidak boleh hanya membuat destinasi ramai. Pariwisata harus membuat masyarakat di sekitar destinasi ikut tumbuh. (Kontributor : Paul. S)

 

Foto: BPAD NTT
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *