KEFAMENANU – NARATOR NTT, 26 September 2026 — Dari pelosok Desa Wisata Tuamese, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), sebuah cerita tentang potensi desa mulai menemukan bentuk barunya.
Saboak dan nira lontar yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat, kini disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Melalui Program Pelatihan, Bimbingan Teknis, dan Pendampingan Ekonomi Kreatif yang digelar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dua bahan lokal tersebut bertransformasi menjadi Dodol Saboak dan Gula Semut yang berpeluang menembus pasar oleh-oleh.

Bagi masyarakat Tuamese, kegiatan tersebut bukan sekadar pelatihan. Kehadiran pemerintah di tengah masyarakat desa dipandang sebagai bentuk perhatian sekaligus upaya membuka jalan bagi pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Semangat itu sejalan dengan Dasa Cita “Ayo Bangun NTT”, yang salah satunya mendorong penguatan ekonomi masyarakat dari desa.
Baca Juga : Di Tuamese, Doris Rihi Menemukan Wajah Masa Depan Pariwisata NTT
Mama Adelci: Jangan Berhenti di Sini
Rasa syukur dan harapan disampaikan salah satu peserta pelatihan, Mama Adelci Tulle.
Ia mengapresiasi perhatian Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang telah memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan kepada masyarakat untuk mengolah hasil alam yang tersedia di sekitar mereka.
Menurut Mama Adelci, pelatihan tersebut membuka harapan baru bagi keluarga dan masyarakat Desa Tuamese.
Bahan lokal yang sebelumnya belum dimaksimalkan kini memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai jual lebih tinggi.
Namun, bagi Mama Adelci, perjalanan tersebut tidak boleh berhenti setelah pelatihan selesai.
Ia berharap pemerintah kembali hadir untuk menggali dan mengembangkan berbagai potensi lain yang dimiliki Desa Tuamese.
“Saya harap, bukan hari ini saja, tetapi kita dapat bertemu lagi di lain kesempatan untuk memaksimalkan potensi-potensi lainnya yang kami miliki di Desa Tuamese ini,” ujar Mama Delci.
Pesan tersebut menjadi harapan sederhana dari masyarakat desa: pelatihan boleh selesai, tetapi pendampingan diharapkan terus berjalan.
Lody Adu: Kami Tidak Hanya Ingin Dilatih
Harapan serupa datang dari kalangan pemuda.
Lody Adu, salah satu pemuda Desa Tuamese yang mengikuti pelatihan, menunjukkan antusiasme sejak kegiatan dimulai. Ia aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan gagasan dalam diskusi kelompok.
Momentum tersebut kemudian dimanfaatkan Lody untuk menyampaikan langsung aspirasi dan ucapan terima kasih kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Drs. Doris Alexander Rihi, M.Si.
Lody mengapresiasi perhatian Pemprov NTT yang menurutnya tetap berupaya menjangkau masyarakat di pelosok desa dengan segala keterbatasan akses yang ada.
Lebih dari sekadar teori, pelatihan tersebut memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah saboak dan nira lontar.
Dari bahan mentah menjadi produk olahan. Dari potensi alam menjadi peluang usaha.
Namun, Lody mengingatkan bahwa pelatihan merupakan langkah awal.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan pendampingan lanjutan sehingga keterampilan yang telah diperoleh benar-benar berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif.
“Setelah kami dilatih, kami berharap kami tidak sebatas dilatih, tetapi juga terus didampingi sebagai bentuk dukungan bagi terwujudnya pertumbuhan ekonomi di Desa Tuamese,” seru Lody.
Empat UMKM Baru Jadi Modal Awal
Harapan masyarakat tersebut kini memiliki pijakan melalui terbentuknya empat kelompok UMKM baru di Desa Tuamese.
Keempat kelompok tersebut yakni:
- Kelompok UMKM Gula Semut Tirosa
- Kelompok UMKM Gula Semut Sejuta Lontar Tuamese
- Kelompok UMKM Dodol Mutiara Tua
- Kelompok UMKM Dodol Tradisional Tuamese (D’Tatu)
Terbentuknya kelompok-kelompok tersebut menjadi langkah awal untuk mengorganisasi masyarakat sekaligus mendorong pengembangan produk lokal secara lebih terarah.
Konsep One Village One Product (OVOP) pun mulai menemukan bentuk konkretnya di Desa Wisata Tuamese.
Saboak dan nira lontar bukan lagi sekadar hasil alam yang dikonsumsi masyarakat, tetapi mulai diarahkan menjadi identitas produk desa yang memiliki nilai ekonomi.
Dari Desa, Untuk Kemandirian Ekonomi
Antusiasme Mama Adelci, Lody Adu, dan masyarakat Desa Tuamese menunjukkan bahwa potensi ekonomi desa tidak selalu harus datang dari luar.
Bahan baku telah tersedia. Pengetahuan mulai diberikan. Kelompok usaha telah dibentuk.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga kesinambungan produksi, meningkatkan kualitas, membangun kemasan dan merek, memperluas pasar, serta memastikan pendampingan berjalan secara berkelanjutan.
Baca Juga : DORIS RIHI PASANG TARGET BESAR: WISATAWAN DATANG, BELANJA, DAN TINGGALKAN UANG DI DESA!
Di titik inilah pesan Mama Adelci dan Lody menjadi penting.
Mereka tidak hanya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, tetapi juga menitipkan harapan agar kehadiran pemerintah dapat terus berlanjut setelah kegiatan pelatihan berakhir.
Sebab bagi masyarakat Tuamese, saboak dan nira lontar bukan sekadar bahan lokal. Keduanya adalah potensi ekonomi yang sedang menunggu untuk tumbuh menjadi kebanggaan desa.
Dan dari Desa Wisata Tuamese, semangat One Village One Product perlahan bergerak dari gagasan menuju aksi nyata untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
(Kontributor Krishna.B)





[…] DI TUAMESE, DORIS RIHI: JIKA KONSISTEN, POTENSI DESA INI BISA JADI “MERCUSUAR” PARIWISATA TTU ●DARI LONTAR KE PASAR NASIONAL! SABOAK & NIRA TUAMESE “NAIK KELAS”, LODY ADU & ADELC… ●DARI NTT UNTUK INDONESIA! Cletus Beru Kembali Bersinar, Dokar Tawa Tana dan Uma Uta Jadi Simbol […]