Breaking News
04:12

Dari Saboak dan Nira, Sabu Raijua Bidik Pasar Nasional hingga Internasional

1789536084935
Bagikan
Lihat Tersimpan

SABU RAIJUA- NARATOR NTT, 16 September 2026 — Jangan lagi biarkan kekayaan Sabu Raijua berhenti sebagai bahan mentah!

Dari saboak dan nira, masyarakat Sabu Raijua kini didorong untuk menciptakan produk bernilai tambah, membangun merek sendiri, mengurus legalitas, melindungi kekayaan intelektual hingga membidik pasar yang lebih luas—bahkan sampai tingkat nasional dan internasional.

BACA JUGA: Bukan Lagi Sekadar Bahan Mentah! Dari Sabu Raijua, Gula Semut dan Dodol Didorong Tembus Pasar Lebih Luas

Langkah tersebut menjadi semangat utama dalam Bimbingan Teknis Pengembangan Pelaku Ekonomi Kreatif yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kabupaten Sabu Raijua, Rabu (16/9/2026).

Bukan sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi bagian dari dorongan untuk mengubah wajah ekonomi masyarakat: dari sekadar penghasil bahan baku menjadi produsen yang menguasai rantai nilai dari hulu hingga hilir.

Mewakili Gubernur NTT, Wakil Bupati Sabu Raijua Ir. Thobias Uly saat membuka kegiatan menegaskan bahwa produk masyarakat tidak boleh hanya berputar di pasar lokal.

“Kita ingin agar produk yang dihasilkan oleh masyarakat Sabu Raijua nantinya tidak hanya dikenal dan dikonsumsi di pasar lokal, tetapi mampu menembus pasar yang lebih luas, baik di tingkat regional, nasional, maupun, jika memungkinkan, pasar internasional.”

Jangan Selamanya Jual Bahan Mentah!

Pesan Thobias sangat jelas: masyarakat harus naik kelas.

Menurutnya, perluasan pasar bukan semata-mata soal meningkatkan penjualan. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan upaya memastikan nilai ekonomi dari produk lokal kembali dinikmati oleh masyarakat yang menghasilkan dan mengolahnya.

“Dengan demikian, nilai ekonomi yang selama ini mungkin dinikmati di luar daerah dapat kita tarik kembali ke daerah, ke desa, dan terutama kepada masyarakat sebagai pelaku utama produksi,” ujarnya.

Selama ini, persoalan klasik ekonomi daerah kerap terjadi: bahan baku tersedia melimpah, tetapi nilai tambah justru tercipta di luar daerah.

Karena itu, hilirisasi menjadi kata kunci.

Bahan mentah harus berubah menjadi produk. Produk harus memiliki merek. Merek harus memiliki pasar. Dan pasar harus memberikan manfaat ekonomi sebesar-besarnya kepada masyarakat.

BACA JUGA: Keterbatasan fiskal Bukan Alasan, DisParekraf NTT Tetap Jaga Asa Ekonomi Lokal Tumbuh

Thobias menegaskan masyarakat tidak cukup hanya menjadi penghasil bahan baku.

“Kita tidak ingin masyarakat hanya menjadi penghasil bahan baku. Kita ingin masyarakat menjadi produsen sekaligus pelaku usaha yang mampu menguasai proses dari hulu sampai ke hilir, sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan secara lebih besar oleh masyarakat sendiri.”

Saboak dan Nira Naik Kelas Jadi Dodol dan Gula Semut

Dorongan tersebut diwujudkan secara konkret melalui Bimtek yang secara khusus mengarahkan potensi saboak dan nira menjadi produk olahan berupa dodol dan gula semut.

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Godlif Elliek, selaku pengampu program, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Program Dasa Cita Pemerintah Provinsi NTT.

Program tersebut antara lain diarahkan pada agenda “Pariwisata Penggerak Ekonomi Lokal”, “Dari Ladang dan Laut ke Pasar”, serta “Perempuan Berdaya, Ekonomi Berjaya.”

Menurut Godlif, saboak dan nira dipilih karena keduanya merupakan bagian dari potensi lokal Sabu Raijua yang selama ini memiliki nilai ekonomi sekaligus keterkaitan dengan kehidupan masyarakat.

“Tugas pemerintah bukan hanya melihat potensi yang ada, tetapi memastikan potensi tersebut dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi masyarakat,” kata Godlif.

Dan pemerintah tidak berhenti pada teori.

Dalam kegiatan tersebut, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT juga memberikan hibah peralatan pendukung produksi dodol dan gula semut kepada pelaku UMKM peserta.

BACA JUGA : PAD Sabu Raijua Dibidik Naik! Pemprov NTT Dukung Insentif PNBP untuk Tarik Kendaraan Beralamat Luar Daerah

Bantuan peralatan ini menjadi bagian penting dari upaya memastikan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan benar-benar dapat diterapkan.

Sebab, pelatihan tanpa sarana produksi berisiko berhenti sebagai pengetahuan di dalam ruang kelas.

“Pemberian peralatan produksi ini merupakan bentuk perhatian dan keseriusan Pemerintah Provinsi NTT untuk memastikan peserta tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi mampu mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dan secara kontinu melanjutkan usahanya,” jelas Godlif.

Dari Desa, Menyerbu Pasar Lebih Luas

Ada pesan besar di balik pengolahan saboak dan nira menjadi dodol serta gula semut.

Ekonomi kreatif bukan sekadar membuat barang. Ekonomi kreatif adalah bagaimana sebuah potensi lokal diberi nilai tambah hingga mampu memiliki identitas dan daya saing.

Karena itu, masyarakat tidak hanya dibekali keterampilan produksi.

Mereka juga didorong memahami pentingnya kualitas produk, kemasan, branding, legalitas usaha, kekayaan intelektual, teknologi digital hingga strategi pemasaran.

Dengan bekal tersebut, produk lokal diharapkan tidak lagi dipandang sebagai produk biasa, tetapi dapat tumbuh menjadi produk unggulan daerah yang memiliki identitas, kualitas dan nilai ekonomi.

Saboak tidak harus berhenti sebagai saboak.

Nira tidak harus berhenti sebagai nira.

Ketika bahan baku bertemu kreativitas, teknologi bertemu keterampilan, dan produksi bertemu pemasaran, maka lahirlah nilai tambah.

Dari desa, produk bergerak menuju pasar.

Dari bahan mentah, lahir produk olahan.

Dari usaha rumah tangga, terbuka peluang menuju UMKM yang lebih kuat.

Dan dari Sabu Raijua, sebuah pesan kembali digaungkan:

NTT tidak cukup hanya dikenal sebagai daerah yang kaya potensi. NTT harus mampu mengubah potensi itu menjadi nilai ekonomi dan memastikan masyarakat menjadi pemilik manfaatnya.

Dari saboak dan nira, Sabu Raijua kini menatap pasar yang lebih luas.

Bukan lagi sekadar menjual bahan mentah, tetapi mulai membangun masa depan melalui produk bernilai tambah. (Kontributor: Paul S.)

Penulis

admin

Satu tanggapan untuk “Dari Saboak dan Nira, Sabu Raijua Bidik Pasar Nasional hingga Internasional”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *