Breaking News
13:50

DARI PERCA TENUN HINGGA MANGGULU, NTT DORONG SUMBA TIMUR MENGUBAH WARISAN BUDAYA MENJADI KEKUATAN EKONOMI

IMG 20261027 WA0134
Bagikan
Lihat Tersimpan

SUMBA TIMUR, NARATOR NTT, 27 Oktober 2026.— Jangan biarkan kekayaan budaya hanya menjadi sesuatu yang dipajang, dikagumi, lalu berlalu tanpa meninggalkan nilai ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya.

Pesan itulah yang menemukan bentuk konkretnya dalam Pelatihan, Bimbingan Teknis dan Pendampingan Ekonomi Kreatif Kabupaten Sumba Timur yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur selama tiga hari, 27–29 Oktober 2026, di Kampung Raja Prailiu, Waingapu, Sumba Timur.

Sebanyak 40 pelaku ekonomi kreatif terlibat dalam kegiatan ini dan dibagi ke dalam empat kelompok usaha, yakni Fashion Anakawini Collection, Fashion Ndula Luri, Kuliner Bukit Wairinding, dan Kuliner Uma Witu.

Mereka bukan datang dengan tangan kosong. Mereka membawa kekayaan yang sudah hidup di tengah masyarakat: tenun ikat, perca tenun, pangan lokal Manggulu dan Kaparrak, serta pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Yang sedang dilakukan Pemerintah Provinsi NTT adalah mendorong kekayaan tersebut naik kelas.

Bukan sekadar bisa dibuat, tetapi bisa dijual, bukan sekadar dikenal, tetapi memiliki pasar, bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi mampu menciptakan pendapatan, membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi keluarga.

Dasa Cita Tidak Berhenti di Atas Kertas

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi arah pembangunan Pemerintah Provinsi NTT di bawah kepemimpinan Gubernur Melki Laka Lena, khususnya semangat Dasa Cita tentang “Milenial dan Perempuan Motor Kreatif Lokal” serta “Wisata NTT, Penggerak Ekonomi Lokal.”

Semangat tersebut diterjemahkan ke dalam intervensi yang menyentuh langsung pelaku usaha.

Bukan hanya pelatihan produksi, tetapi juga menyentuh legalitas, kualitas pangan, kekayaan intelektual, akses pembiayaan, perizinan, branding, pemasaran, digitalisasi, hingga pengembangan produk.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Doris Alexander Rihi sebelumnya menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif harus dimulai dari potensi lokal yang benar-benar dimiliki masyarakat.

Karena itu, pendekatannya bukan menyeragamkan produk, melainkan menggali kekhasan setiap daerah dan memberinya sentuhan inovasi agar mampu menjawab kebutuhan pasar.

Di Sumba Timur, kekhasan itu sangat kuat.

Tenun ikat adalah identitas. Kuliner lokal adalah warisan. Budaya adalah modal sosial. Tetapi semua itu harus mendapatkan sentuhan kewirausahaan agar mampu bergerak dari ruang budaya menuju ruang ekonomi.

Asisten II: Potensi Besar Tidak Cukup Tanpa Keterampilan

Membuka kegiatan tersebut, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Sumba Timur, Yulius Ngenju, S.T., menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari upaya Pemerintah Provinsi NTT meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Menurut Yulius, pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan dua sektor yang saling melengkapi.

Pariwisata menghadirkan pasar dan pengalaman bagi wisatawan, sementara ekonomi kreatif memperkaya pengalaman tersebut melalui produk, karya dan jasa yang memiliki nilai tambah sekaligus merepresentasikan identitas budaya masyarakat.

Namun, Yulius mengingatkan bahwa potensi besar tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan.

Potensi harus bertemu dengan keterampilan. Kreativitas harus bertemu dengan pasar. Dan produk lokal harus bertemu dengan standar kualitas.

Karena itu, pelaku usaha tidak cukup hanya memiliki produk yang unik. Mereka harus mampu menghasilkan produk yang berkualitas, memiliki kemasan menarik, mempunyai identitas yang kuat, dikelola secara profesional dan mampu bersaing.

“Produk lokal tidak cukup hanya memiliki keunikan, tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan pasar, menjaga kualitas, memiliki identitas yang kuat, dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman,” tegas Yulius.

Dari Perca Tenun Menjadi Produk Bernilai

Salah satu kekuatan kegiatan ini adalah keberanian melihat sesuatu yang selama ini dianggap sisa sebagai sumber nilai baru.

Perca tenun bukan sampah.

Di tangan pelaku kreatif, potongan-potongan tenun dapat berubah menjadi produk fashion dan cendera mata yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi.

Inilah inti ekonomi kreatif: mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa melalui kreativitas.

Empat kelompok usaha yang mengikuti kegiatan ini diarahkan untuk tidak hanya memahami teori, tetapi menghasilkan prototipe produk dan rancangan usaha sederhana yang dapat dikembangkan setelah kegiatan berakhir.

Untuk kelompok fashion, perca tenun menjadi ruang eksplorasi kreativitas.

Untuk kelompok kuliner, Manggulu dan Kaparrak didorong tidak hanya bertahan sebagai makanan tradisional, tetapi dikembangkan dari sisi pengolahan, higienitas, kemasan, branding dan pemasaran agar mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.

Dengan demikian, produk lokal tidak kehilangan jati dirinya ketika masuk pasar modern.

Sebaliknya, identitas lokal justru menjadi kekuatan pembeda. Tidak Ada Lagi Produk Bagus Tanpa Legalitas

Yang menarik, kegiatan ini tidak berhenti pada urusan membuat produk.

Para peserta juga mendapatkan penguatan mengenai Nomor Induk Berusaha (NIB), perizinan produk pangan, sertifikasi halal sesuai ketentuan, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual, akses pembiayaan dan pengembangan usaha.

Materi tersebut diberikan oleh para narasumber dari berbagai institusi.

Bernardus B. Moron, S.Si., S.H., M.Hum. dari Loka Pengawasan Obat dan Makanan Sumba Timur memberikan perspektif mengenai keamanan dan pengawasan produk pangan.

Yudhi Prasetyo, S.H., Analis Kekayaan Intelektual Ahli Pertama pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum NTT, memperkuat pemahaman mengenai perlindungan kekayaan intelektual.

Dari sisi pembiayaan, Petrus D. Ndoloe, S.E., Kasubdiv P3KAP Divisi Kredit Kecil, Mikro dan Konsumer Bank NTT, memberikan perspektif mengenai akses pembiayaan usaha.

Sementara Yuniarti D. Riwu, S.S., Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Provinsi NTT, memberikan penguatan terkait legalitas dan perizinan usaha.

Dari sisi teknis kreativitas dan produksi, kegiatan diperkuat oleh Sischa Solokana, praktisi dan pengusaha ekonomi kreatif; Anita Marselina Nocolas, instruktur jahit; serta Dra. Frida Mariyani Yiwa, instruktur pangan lokal.

Komposisi ini memperlihatkan satu pesan penting:

Membangun UMKM tidak cukup hanya dengan mengajari orang membuat produk.

Pelaku usaha harus dibekali kemampuan untuk memproduksi, mengemas, memberi merek, melindungi karya, mendapatkan izin, mengakses pembiayaan dan menjualnya kepada pasar.

Perempuan Bukan Pelengkap, Tetapi Motor Ekonomi

Perhatian khusus juga diberikan kepada keterlibatan perempuan.

Ini bukan tanpa alasan.

Di balik banyak produk tenun dan pangan lokal, terdapat tangan-tangan perempuan yang selama ini bekerja dalam diam, mengolah bahan, menjaga keterampilan tradisional dan menopang ekonomi keluarga.

Ketika perempuan diberikan keterampilan, akses pasar dan kesempatan berusaha yang lebih luas, yang diperkuat bukan hanya satu individu.

Yang ikut bergerak adalah ekonomi rumah tangga.

Karena itu, spirit “Milenial dan Perempuan Motor Kreatif Lokal” harus dibaca sebagai upaya membuka ruang agar perempuan dan generasi muda tidak hanya menjadi penonton perubahan ekonomi, tetapi menjadi pelaku utamanya.

Pelatihan Bukan Garis Finish

Yulius Ngenju menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak boleh diukur dari berapa banyak orang yang duduk mengikuti pelatihan selama tiga hari.

Ukuran sebenarnya justru dimulai setelah pelatihan selesai.

Apakah prototipe benar-benar diproduksi?

Apakah kualitas produk meningkat, legalitas usaha mulai dibenahi, pemasaran semakin luas, apakah omzet bertambah?

Dan yang paling penting: apakah kegiatan ini melahirkan usaha yang lebih mandiri?

Karena itu, peserta didorong untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam aktivitas usaha sehari-hari.

Teknologi digital dan media sosial harus dimanfaatkan sebagai etalase baru. Produk lokal tidak boleh hanya menunggu pembeli datang ke Sumba Timur.

Pasarlah yang harus didekati, produk harus diperkenalkan, cerita budaya harus dikemas, merek harus dibangun dan kualitas harus dijaga.

Dari Kampung Raja Prailiu untuk Ekonomi NTT

Dari Kampung Raja Prailiu, pesan pembangunan ekonomi kreatif NTT menjadi semakin jelas.

Kita tidak kekurangan potensi. Yang harus diperkuat adalah kemampuan mengubah potensi menjadi nilai.

Tenun tidak cukup hanya indah, Manggulu tidak cukup hanya enak, Kaparrak tidak cukup hanya dikenal masyarakat lokal.

Semuanya harus memiliki kualitas, kemasan, identitas, legalitas dan akses pasar.

Inilah esensi pembangunan ekonomi kreatif yang sedang didorong Pemerintah Provinsi NTT: mengambil kekuatan yang sudah ada di masyarakat, kemudian memberikan sentuhan pengetahuan, kreativitas, teknologi dan akses pasar agar kekuatan tersebut menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

Dan di titik inilah spirit “Ayo Bangun NTT” menemukan bentuknya.

Bukan dengan menunggu sesuatu datang dari luar. Tetapi dengan membangun dari apa yang sudah dimiliki.

Dari tenun yang diwariskan leluhur, dari pangan lokal yang tumbuh di tanah sendiri, dari kreativitas perempuan dan generasi muda, dari tangan pelaku UMKM.

Kemudian semuanya dipertemukan dengan inovasi, pasar dan keberanian untuk naik kelas.

Sebab pada akhirnya, pembangunan ekonomi kreatif bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan.

Pembangunan ekonomi kreatif adalah tentang seberapa banyak kehidupan masyarakat yang berubah setelah kegiatan itu selesai.

Dan dari Sumba Timur, perubahan itu sedang mulai ditenun. (Kontributor : Paul. S)

IMG 20261027 WA0008

Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *