Breaking News
10:08

Mahasiswi Magang STIKOM Artha Buana Tinggalkan Inovasi E-Apel dan Sikma di Dinas Parekraf NTT

Bagikan
Lihat Tersimpan

KUPANG, NARATOR NTT, 12 Oktober 2026 —|| Magang tidak seharusnya berakhir hanya dengan laporan dan sertifikat. Dua mahasiswi STIKOM Artha Buana Kupang, Maria Anita Ngala dan Yasinta Argiyuni Wirasati Lete Witin, membuktikan bahwa proses belajar di lingkungan birokrasi juga dapat melahirkan karya yang memberi nilai tambah bagi instansi.

Keduanya menghadirkan dua inovasi berbasis aplikasi, E-Apel dan Sikma, setelah menjalani proses magang di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kedua aplikasi tersebut dipresentasikan di Ruang Rapat Kerja Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Senin (12/10/2026).

Baca Juga : GEBRAKAN PERGUB NTT BERBUAH MANIS! 6.198 KENDARAAN LUAR DAERAH RESMI MUTASI

Presentasi tersebut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Doris Alexander Rihi, para kepala bidang, serta dosen pembimbing dari STIKOM Artha Buana.

Kehadiran kedua inovasi ini menjadi bukti bahwa kegiatan magang dapat melampaui kewajiban akademik dan berkembang menjadi proses pembelajaran yang produktif, kreatif, serta menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan organisasi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Doris Alexander Rihi, memberikan apresiasi atas inisiatif dan karya yang dihasilkan kedua mahasiswi tersebut. Menurutnya, magang yang baik bukan hanya memberikan pengalaman kepada mahasiswa, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk berkontribusi melalui gagasan dan inovasi.

“Saya mengapresiasi apa yang telah dilakukan kedua mahasiswi ini. Mereka tidak sekadar menjalani proses magang untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi mampu menghasilkan karya yang memiliki relevansi dengan kebutuhan organisasi. Inilah bentuk pembelajaran lapangan yang sesungguhnya: belajar, mengamati, memahami, kemudian menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ujar Doris.

E-Apel dan Sikma: Teknologi untuk Disiplin dan Pelayanan Publik

Dua aplikasi yang dihasilkan memiliki fungsi berbeda, tetapi saling melengkapi dalam mendukung tata kelola organisasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

E-Apel merupakan aplikasi untuk mengecek kehadiran pegawai saat pelaksanaan apel secara real time. Aplikasi ini diharapkan membantu proses pemantauan kehadiran menjadi lebih cepat dan efektif, sekaligus mendukung penguatan budaya disiplin dan akuntabilitas pegawai di lingkungan kerja.

Sementara itu, Sikma merupakan aplikasi yang digunakan untuk melaksanakan survei kepuasan masyarakat. Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat memberikan penilaian terhadap pelayanan yang diterima. Hasil survei diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi instansi untuk mengidentifikasi aspek pelayanan yang perlu dipertahankan maupun ditingkatkan.

Bagi Doris, kedua aplikasi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata, baik dalam tata kelola internal maupun evaluasi pelayanan kepada masyarakat.

Baca Juga : Family Time Tak Harus Jauh Dan Mahal Kolam Renang Sasando Hotel Pilihan Tepat

“E-Apel dan Sikma menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar dan rumit. Hal terpenting adalah kemampuan melihat kebutuhan, menemukan peluang perbaikan, lalu menghadirkan solusi. Jika teknologi dapat membantu kita bekerja lebih tertib dan mengevaluasi pelayanan dengan lebih baik, maka inovasi seperti inilah yang patut kita dorong,” tegasnya.

Ia menilai, hal yang patut diapresiasi bukan hanya produk akhir yang dihasilkan, melainkan juga proses berpikir yang melahirkan inovasi tersebut. Mahasiswa belajar memahami lingkungan kerja, membaca kebutuhan, kemudian menerjemahkan hasil pengamatan menjadi gagasan yang dapat dikembangkan.

“Yang kita hargai bukan semata-mata aplikasinya, tetapi cara berpikir yang melahirkan aplikasi itu. Mereka melihat, mereka belajar, mereka memahami kebutuhan, kemudian mencoba menghadirkan inovasi. Ini adalah bentuk pembelajaran lapangan yang kita harapkan,” katanya.

Doris: Mahasiswa Magang Harus Diberi Ruang untuk Berinovasi

Doris menegaskan bahwa birokrasi harus terbuka terhadap gagasan baru, termasuk yang datang dari mahasiswa magang. Instansi pemerintah, menurutnya, perlu menjadi ruang pembelajaran yang memungkinkan generasi muda mengembangkan kreativitas sekaligus menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah.

“Jangan pernah menganggap mahasiswa magang hanya sebagai orang yang datang untuk belajar. Berikan mereka ruang untuk berpikir, mengamati, menyampaikan gagasan, dan mencoba berinovasi. Kadang-kadang, dari pengamatan sederhana justru muncul ide yang bisa membantu memperbaiki pekerjaan kita,” ungkapnya.

Menurut Doris, kehadiran mahasiswa magang juga dapat memberikan perspektif baru bagi organisasi. Karena itu, hubungan antara instansi dan mahasiswa tidak seharusnya hanya berlangsung satu arah. Mahasiswa belajar dari pengalaman birokrasi, sedangkan instansi juga dapat memperoleh manfaat dari kreativitas dan kemampuan yang dibawa generasi muda.

“Saya berharap mahasiswa yang datang magang di sini tidak hanya pulang membawa pengalaman dan sertifikat. Kalau mereka bisa meninggalkan gagasan, karya, atau inovasi yang berguna bagi instansi, itu merupakan nilai tambah yang luar biasa. Mereka belajar dari kami, tetapi pada saat yang sama, kami juga dapat belajar dari kreativitas dan perspektif baru yang mereka bawa,” tegas Doris.

Ia berharap E-Apel dan Sikma tidak berhenti pada presentasi atau sekadar menjadi produk akhir kegiatan magang. Kedua aplikasi tersebut perlu ditelaah, disempurnakan, dan dievaluasi agar sesuai dengan kebutuhan organisasi serta dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.

“Saya tidak ingin inovasi berhenti hanya karena kegiatan magangnya sudah selesai. Kalau ada gagasan yang baik, kita harus melihat bagaimana gagasan itu dapat dikembangkan. Yang kita kejar bukan sekadar memiliki aplikasi, melainkan manfaat nyata dari aplikasi tersebut bagi organisasi dan masyarakat,” ujarnya.

Doris menambahkan, kolaborasi antara dunia pendidikan dan pemerintahan perlu terus diperkuat agar pengetahuan akademik dapat bertemu dengan kebutuhan praktis dan melahirkan solusi yang bermanfaat.

“Bagi saya, inilah esensi kolaborasi antara dunia pendidikan dan pemerintahan. Kampus membekali mahasiswa dengan pengetahuan, sedangkan instansi memberikan ruang bagi mereka untuk menerapkan pengetahuan itu dalam situasi nyata. Ketika keduanya bertemu, yang diharapkan bukan hanya pengalaman bagi mahasiswa, tetapi juga lahirnya gagasan yang memberi manfaat lebih luas,” tambahnya.

Yohanes Payong: Magang Harus Menghasilkan Inovasi

Sementara itu, Ketua STIKOM Artha Buana, Yohanes Payong, menjelaskan bahwa kewajiban mahasiswa menghasilkan inovasi selama menjalani magang merupakan bagian dari pendekatan pembelajaran yang diterapkan dalam kurikulum kampus.

Menurut Yohanes, mahasiswa tidak hanya dituntut mengenal dunia kerja atau memenuhi persyaratan akademik. Mereka juga diarahkan untuk mengamati kebutuhan instansi, mengidentifikasi peluang perbaikan, dan menghasilkan inovasi yang berguna bagi tempat mereka melaksanakan magang.

“Dalam kurikulum pembelajaran kami, mahasiswa dan mahasiswi yang melaksanakan magang diwajibkan untuk meninggalkan inovasi yang berguna bagi tempat mereka melaksanakan magang. Inovasi tersebut harus lahir dari hasil pengamatan terhadap kebutuhan dinas,” jelas Yohanes.

Ia mengatakan, pendekatan tersebut bertujuan agar kegiatan magang memberikan manfaat timbal balik. Mahasiswa memperoleh pengalaman praktis dan kesempatan menerapkan ilmu yang dipelajari di kampus, sementara instansi mendapatkan gagasan baru yang berpotensi mendukung pelaksanaan tugasnya.

“Kami ingin mahasiswa belajar langsung dari dunia kerja, memahami persoalan yang ada, kemudian menggunakan kemampuan yang mereka miliki untuk menghadirkan solusi. Dengan demikian, magang bukan sekadar tentang apa yang diperoleh mahasiswa, tetapi juga tentang kontribusi apa yang dapat mereka berikan kepada instansi tempat mereka belajar,” ungkapnya.

Yohanes menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan instansi pemerintah memiliki arti penting dalam membentuk sumber daya manusia yang kreatif, adaptif, dan mampu menerapkan pengetahuan secara praktis.

Kampus, menurutnya, membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan kompetensi, sedangkan instansi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan tersebut dalam menghadapi kebutuhan dunia kerja yang sesungguhnya.

“Harapan kami, inovasi yang ditinggalkan mahasiswa benar-benar dapat memberikan manfaat bagi instansi. Bagi mahasiswa, ini menjadi pengalaman berharga bahwa ilmu yang dipelajari di kampus harus mampu menjawab kebutuhan nyata. Bagi instansi, ini merupakan kesempatan untuk memperoleh gagasan baru dari generasi muda,” tambah Yohanes.

Magang Bukan Sekadar Hadir, tetapi Meninggalkan Karya

Kehadiran E-Apel dan Sikma memperlihatkan bahwa mahasiswa magang dapat mengambil peran lebih dari sekadar peserta pembelajaran. Dengan kepekaan terhadap kebutuhan lingkungan kerja dan kemampuan mengembangkan teknologi, mereka berpeluang menghadirkan gagasan yang bermanfaat bagi organisasi.

Baca Juga : Sambangi 5 Perangkat Daerah, BPAD NTT Jaring 31 Kendaraan ASN Telat dan Tunggak PKB

Bagi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, pengalaman ini menjadi momentum untuk terus membangun lingkungan kerja yang terbuka terhadap kreativitas, pembelajaran, dan inovasi generasi muda. Sementara bagi STIKOM Artha Buana, hasil tersebut mencerminkan pendekatan pembelajaran yang mendorong mahasiswa menerapkan kompetensi akademik untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

Keberlanjutan manfaat kedua aplikasi selanjutnya memerlukan pengembangan, evaluasi, dan penyesuaian dengan kebutuhan organisasi, termasuk perhatian terhadap keamanan data dan ketentuan yang berlaku.

Pada akhirnya, keberhasilan magang tidak hanya diukur dari berapa lama mahasiswa berada di sebuah instansi atau apakah kewajiban akademiknya telah diselesaikan. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari apa yang dipelajari, kontribusi yang diberikan, dan gagasan yang dapat diteruskan setelah masa magang berakhir.

Maria Anita Ngala dan Yasinta Argiyuni Wirasati Lete Witin meninggalkan pesan melalui E-Apel dan Sikma: mahasiswa magang bukan hanya datang untuk belajar, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkarya, berinovasi, dan memberikan nilai tambah bagi institusi tempat mereka belajar. (Narator NTT/Paul.S)

Foto: BPAD NTT
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *