Breaking News
02:38

DORIS RIHI PASANG TARGET BESAR: WISATAWAN DATANG, BELANJA, DAN TINGGALKAN UANG DI DESA!

IMG 20260922 WA0165
Bagikan
Lihat Tersimpan

Kupang – Narator NTT, 22 September 2026 — Panorama Bukit Tuamese boleh menjadi alasan wisatawan datang, tetapi bagi Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Drs. Doris Alexander Rihi, keindahan alam tidak boleh berhenti sebagai objek untuk difoto.

BACA JUGA : TARGET 6, MELEDAK JADI 15 NIB! WORKSHOP EKRAF SBD BUKTIKAN KOLABORASI PEMPROV NTT TAK SEKADAR SEREMONI

Di balik bentang alam Desa Wisata Tuamese yang eksotis—dengan gugusan perbukitan dan panorama perairan yang kerap disandingkan secara visual dengan Raja Ampat maupun Pulau Padar—Doris melihat sesuatu yang jauh lebih penting: peluang agar aktivitas pariwisata benar-benar menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat desa.

Cara pandang inilah yang kemudian melandasi keputusan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT melaksanakan Kegiatan Penguatan Kapasitas Sumber Daya Ekonomi Kreatif langsung di Desa Wisata Tuamese, Kabupaten Timor Tengah Utara, yang akan dilaksanakan pada Rabu, 23 September 2026.

Bagi Doris, membawa pelatihan ke tengah destinasi bukan sekadar persoalan memilih lokasi kegiatan. Ini merupakan bagian dari strategi agar pengembangan ekonomi kreatif tidak berjalan di ruang kelas yang terpisah dari realitas destinasi.

“Kita ingin pelatihan ini tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga mempertemukan para pelaku dengan kekuatan destinasi tempat mereka hidup dan berkarya,” ujar Doris.

BACA JUGA : Bukan Sekadar Pelatihan! 6 UMKM Sumba Barat Daya Langsung Kantongi NIB, Pemprov NTT Dorong Usaha Naik Kelas

Tuamese sendiri mulai mendapatkan perhatian karena karakter lanskapnya yang unik dan fotogenik. Para pecandu fotografi mulai menjadikan kawasan ini sebagai salah satu ruang untuk menangkap keindahan alam Timor dari sudut yang berbeda.

Namun Doris tidak ingin geliat tersebut berhenti pada fenomena wisatawan datang, berfoto, lalu meninggalkan desa tanpa memberikan nilai ekonomi yang berarti.

Karena itu, potensi lokal masyarakat menjadi bagian penting dari intervensi pemerintah.

Melalui kegiatan ini, potensi Nira dan Saboak akan didorong untuk diolah menjadi produk dengan nilai tambah, antara lain gula semut dan dodol.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penonton perkembangan pariwisata, tetapi sebagai pelaku ekonomi di dalam ekosistem destinasi.

BUKITNYA MENJUAL, PRODUKNYA HARUS IKUT MENJUAL

Doris menegaskan, kekuatan sebuah desa wisata tidak hanya ditentukan oleh seberapa indah pemandangannya.

Destinasi harus memiliki sesuatu yang dapat dibawa pulang wisatawan—baik dalam bentuk pengalaman, cerita maupun produk lokal.

Karena itu, pengembangan produk ekonomi kreatif di Tuamese diarahkan agar menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Bukit Tuamese menjadi daya tariknya. Nira dan Saboak menjadi bahan bakunya. Kreativitas masyarakat menjadi nilai tambahnya. Dan transaksi wisatawan diharapkan menjadi bagian dari perputaran ekonomi desa.

“Pelatihan yang dilakukan langsung di desa wisata ini juga menjadi cara untuk memperkenalkan kekuatan destinasi Tuamese kepada seluruh pihak yang terlibat. Panitia maupun instruktur yang mungkin sebelumnya belum pernah datang ke sini dapat melihat langsung bagaimana potensi alam dan potensi ekonomi masyarakat saling berkaitan,” kata Doris.

DORIS: KITA TIDAK BOLEH BERHENTI DI PELATIHAN

Yang membedakan pendekatan Pemprov NTT kali ini adalah intervensi tidak berhenti ketika pelatihan selesai.

Pada akhir kegiatan akan dilakukan penyerahan hibah peralatan produksi kepada kelompok UMKM untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi masyarakat.

Tahap berikutnya direncanakan dilaksanakan workshop standardisasi kualitas produk ekonomi kreatif.

Doris menjelaskan, arah kebijakan tersebut merupakan bagian dari pendampingan berkelanjutan. Pemerintah tidak cukup hanya mengajarkan masyarakat bagaimana mengolah bahan baku menjadi produk.

Produk harus berkualitas. Usaha harus memiliki legalitas. Kemasan harus memiliki daya tarik. Dan identitas produk harus mendapatkan perlindungan.

“Jadi kita tidak hanya memberikan keterampilan mengolah produk mula-mula menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Kita juga melakukan pendampingan serta memfasilitasi standardisasi produk, legalitas usaha dan fasilitasi perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual terhadap produk dan kemasan yang ada di UMKM,” tegasnya

Pendekatan tersebut menunjukkan arah pembangunan ekonomi kreatif yang ingin dibangun Doris: tidak sekadar menghasilkan kegiatan, tetapi membangun rantai nilai.

Mulai dari bahan baku lokal, keterampilan produksi, peningkatan kualitas, peralatan, legalitas, kemasan, perlindungan kekayaan intelektual hingga peluang pemasaran.

DARI FOTO KE TRANSAKSI, DARI PEMANDANGAN KE PENDAPATAN

Bagi Tuamese, tantangannya kini bukan lagi sekadar bagaimana membuat orang datang.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat kunjungan itu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Sebab wisatawan yang datang ke Bukit Tuamese tidak cukup hanya membawa pulang foto. Mereka juga perlu memiliki alasan untuk membeli produk masyarakat setempat.

Di situlah ekonomi kreatif mengambil posisi strategis.

Pariwisata menghadirkan orang. Ekonomi kreatif menciptakan produk. UMKM mengubah kunjungan menjadi transaksi. Dan masyarakat desa menjadi penerima manfaat.

Doris melihat pola tersebut sebagai bagian penting dari masa depan pembangunan pariwisata NTT.

“Kalau wisatawan datang ke sebuah desa wisata, kita tentu berharap ada manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat. Jangan sampai keindahan alamnya dinikmati, tetapi produk masyarakat tidak ikut berkembang,” katanya.

Karena itu, Tuamese tidak hanya diposisikan sebagai tempat menikmati panorama, tetapi juga sebagai ruang untuk menunjukkan bahwa keindahan destinasi dan kekuatan ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan.

Bukit Tuamese punya lanskap yang menjual.

Kini pekerjaan berikutnya adalah memastikan masyarakat Tuamese juga memiliki produk yang layak dijual, berkualitas, memiliki identitas dan mampu bersaing.

Dan dari sanalah pesan pembangunan pariwisata Doris Alexander Rihi menjadi semakin jelas:

Pariwisata bukan sekadar tentang mendatangkan wisatawan. Pariwisata adalah tentang bagaimana kedatangan wisatawan membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat lokal.

Sebab destinasi yang hebat bukan hanya membuat wisatawan berkata “indah”, tetapi juga membuat masyarakat desa berkata: “kami ikut sejahtera.” (Kontributor Paul.S)

Penulis

admin

2 tanggapan untuk “DORIS RIHI PASANG TARGET BESAR: WISATAWAN DATANG, BELANJA, DAN TINGGALKAN UANG DI DESA!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *