Breaking News
05:22

DARI BAMBU MENUJU KESEJAHTERAAN, PEMPROV NTT DORONG EKONOMI KREATIF SUMBA TENGAH

Bagikan
Lihat Tersimpan

SUMBA TENGAH, NARATOR NTT, 05 November 2026II – Potensi lokal tidak boleh sekadar menjadi kekayaan yang dipandang, tetapi harus diolah menjadi kekuatan ekonomi yang menghidupi masyarakat. Semangat inilah yang dibawa Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam menggelar Pelatihan, Bimtek, dan Pendampingan Ekonomi Kreatif di Desa Umbu Langang, Kabupaten Sumba Tengah, 4–6 November 2026.

Kegiatan yang dibuka Wakil Bupati Sumba Tengah, Martinus Umbu Djoka, S.Hut., M.Si., ini melibatkan 40 peserta dari Desa Umbu Langang, Umbu Pabal, dan Umbu Pabal Selatan, terdiri atas 36 laki-laki dan 4 perempuan. Fokus kegiatan diarahkan pada pengembangan kerajinan bambu sebagai produk ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Baca Juga: RAHASIA MANIS DARI TUAMESE! Saboak dan Nira Lontar Berubah Jadi Produk Unggulan Siap Tembus Pasar

Dalam sambutannya, Martinus menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat sekaligus mendukung Dasa Cita Provinsi NTT, khususnya Dasa Cita 2, Milenial dan Perempuan Motor Kreatif Lokal, serta Dasa Cita 3, Wisata NTT, Penggerak Ekonomi Lokal.

Menurutnya, pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan dua sektor yang saling menguatkan. Pariwisata menghadirkan pasar melalui kunjungan wisatawan, sementara ekonomi kreatif menghasilkan produk dan karya yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Ia menilai bambu memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi. Namun, ketersediaan bahan baku harus diikuti keterampilan, inovasi desain, kualitas pengerjaan, finishing, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

DORIS: JANGAN BIARKAN POTENSI LOKAL BERHENTI SEBAGAI KEKAYAAN, UBAH MENJADI KEKUATAN EKONOMI!

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Drs. Doris Alexander Rihi, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda pelatihan, melainkan implementasi nyata Dasa Cita dan semangat Ayo Bangun NTT yang menempatkan kreativitas serta kemandirian masyarakat sebagai fondasi pembangunan ekonomi daerah.

Menurut Doris, kegiatan di Sumba Tengah juga menjadi bagian dari kehadiran Pemerintah Provinsi NTT dalam menyongsong HUT ke-68 Provinsi NTT sekaligus menjemput momentum Tour de EnTeTe Etape Sumba.

“Tour de EnTeTe tidak boleh hanya menjadi peristiwa olahraga yang melintasi wilayah. Ini harus menjadi momentum memperkenalkan kekayaan alam, budaya, kreativitas, dan produk unggulan masyarakat Sumba. Wisatawan harus melihat bahwa Sumba bukan hanya indah untuk dikunjungi, tetapi juga kaya karya yang layak dibeli dan dibawa pulang,” tegas Doris.

Baca Juga: Bukan Sekadar Indah untuk Dipandang, Alor Didorong Punya Produk Kreatif yang Layak Dibawa Pulang Wisatawan

Ia mengingatkan bahwa potensi alam tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan apabila tidak diikuti kreativitas dan kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.

“Jangan hanya bangga karena memiliki bambu. Banggalah ketika bambu itu berhasil diubah menjadi produk berkualitas, memiliki desain menarik, identitas, dan mampu menembus pasar. Kita tidak boleh terus menjual potensi, tetapi harus mulai menghasilkan nilai dari potensi yang kita miliki,” tandasnya.

Doris juga menegaskan bahwa keberhasilan program tidak diukur dari berapa hari pelatihan berlangsung atau berapa banyak peserta yang hadir, tetapi dari keberlanjutan usaha setelah kegiatan berakhir.

“Jangan sampai setelah pelatihan selesai, semuanya ikut selesai. Kita ingin kelompok usaha tetap hidup, produk terus berkembang, dan masyarakat memperoleh penghasilan. Pemerintah hadir membuka jalan, tetapi masyarakat harus berani melangkah dan menjadi pelaku utama perubahan ekonomi di daerahnya,” ujarnya.

Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi pengembangan potensi pariwisata, ekonomi kreatif dan kebudayaan, kewirausahaan, digitalisasi pemasaran, perizinan berusaha berbasis risiko, serta Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Pelatihan teknis juga difokuskan pada inovasi desain, diversifikasi kerajinan bambu, teknik finishing, dan pengendalian kualitas.

Baca Juga: Doris Alexander Rihi: Kelimutu Tak Boleh Berdiri Sendiri, Produk Ekraf Harus Menjadi Alasan Wisatawan Tinggal dan Berbelanja

Kegiatan ini menargetkan terbentuknya empat kelompok usaha. Masing-masing kelompok diharapkan menghasilkan minimal satu prototipe dan satu produk kerajinan yang siap dikembangkan, dilengkapi rencana usaha sederhana serta pemahaman manajemen dan perizinan.

Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi upaya mendorong masyarakat agar mampu mengubah sumber daya lokal menjadi kekuatan ekonomi produktif.

Dari Desa Umbu Langang, pesan pembangunan itu ditegaskan: NTT tidak kekurangan potensi, yang dibutuhkan adalah keberanian mengolah, kreativitas menciptakan nilai, dan konsistensi membangun usaha. Sebab, potensi baru berarti ketika mampu menghidupi masyarakat. (Kontributor: Paul. S)

Flayer Tour de En Te Te
Flayer Pergub 64 Tahun 2026. Keringanan Pajak Kendaraan
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *