Breaking News
14:50

Panen Perdana Tomat SMKN 7 Ende, Bukti Pendidikan Vokasi Harus Melahirkan Karya

Bagikan
Lihat Tersimpan
Yakobus Mbira: Sekolah Jangan Hanya Menghasilkan Lulusan, Tetapi Harus Melahirkan Generasi Kreatif, Inovatif dan Berdaya Saing

ENDE, NARATOR NTT – 7 Oktober 2026|| — Panen perdana tomat di kebun sekolah SMK Negeri 7 Ende, Kecamatan Moni, Rabu (7/10/2026), tidak sekadar menjadi aktivitas pertanian di lingkungan sekolah. Bagi Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) Kabupaten Ende, momen tersebut merupakan gambaran nyata bagaimana pendidikan vokasi mulai diarahkan untuk melahirkan kreativitas, inovasi dan keberanian siswa memasuki dunia kewirausahaan.

Koordinator Bidang Ekonomi, Pariwisata dan Geopark TP2D Kabupaten Ende, Yakobus Mbira, menyampaikan hal tersebut dalam pernyataan terpisah ketika mendampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT menyambangi kebun sekolah SMK Negeri 7 Ende-Moni.

Baca Juga : Dari Kebun Sekolah, SMKN 7 Ende Menanam Masa Depan Pariwisata Ende

Menurut Yakobus, panen perdana tomat tersebut merupakan salah satu bentuk implementasi program One Village One Product (OVOP) yang didorong Pemerintah Provinsi NTT. Lebih dari sekadar program produksi, OVOP menurutnya harus menjadi ruang pembelajaran nyata bagi generasi muda untuk melihat potensi lokal sebagai sumber kreativitas dan peluang ekonomi.

“Panen perdana tomat di SMK Negeri 7 Ende ini merupakan implementasi program OVOP sekaligus menunjukkan keberpihakan pemerintah dalam mendorong kreativitas dan inovasi siswa agar mulai mengenal dan berani masuk ke dunia kewirausahaan,” ujar Yakobus.

Ia menegaskan, pendidikan tidak boleh berhenti pada proses transfer pengetahuan di dalam ruang kelas. Sekolah, terutama pendidikan vokasi, harus menjadi tempat di mana siswa belajar membaca potensi, mengolah gagasan, menghasilkan karya, sekaligus memahami bagaimana sebuah karya dapat memiliki nilai ekonomi.

Karena itu, panen perdana tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Justru dari kebun sekolah itulah siswa dapat belajar tentang proses produksi, ketekunan, pengelolaan usaha, kualitas produk hingga bagaimana hasil pertanian dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

“Harapannya, dengan adanya panen perdana hari ini, siswa SMK dapat menimba ilmu untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih kreatif, inovatif dan memiliki daya saing. Mereka harus melihat bahwa apa yang ada di sekitar kita bisa menjadi sumber gagasan dan bahkan menjadi peluang usaha,” katanya.

Dok Foto: Paul S

Dari Bangku Sekolah ke Dunia Nyata

Yakobus melihat panen perdana tomat di SMKN 7 Ende sebagai gambaran bahwa pendidikan vokasi sedang bergerak dari sekadar memberikan pengetahuan menuju pembentukan keterampilan dan karakter produktif.

Menurutnya, siswa SMKN 7 Ende tidak hanya mendapatkan pendidikan formal di bangku sekolah, tetapi mulai mampu mengaktualisasikan ide dan gagasan dalam bentuk karya nyata.

“Panen hari ini memberikan gambaran bahwa siswa SMK Negeri 7 Ende bukan hanya sekadar mendapatkan pendidikan formal di bangku sekolah. Mereka sudah mampu mengaktualisasikan ide dan gagasan dalam bentuk karya cipta yang bisa dilihat, dikerjakan dan dirasakan hasilnya,” tegasnya.

Bagi Yakobus, inilah esensi pendidikan vokasi: siswa tidak hanya diajarkan bagaimana mencari pekerjaan, tetapi juga dipersiapkan untuk mampu menciptakan peluang.

Kebun sekolah karena itu tidak boleh dipandang sebagai lahan biasa. Di tangan siswa, kebun dapat menjadi laboratorium kewirausahaan; tempat mereka belajar tentang produksi, inovasi, kerja sama, disiplin, tanggung jawab dan keberanian mengubah potensi lokal menjadi nilai ekonomi.

Semangat tersebut sejalan dengan arah pembangunan ekonomi daerah yang menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dari rantai penciptaan nilai. Potensi pertanian, pariwisata dan ekonomi kreatif tidak akan berkembang maksimal apabila generasi mudanya hanya ditempatkan sebagai penonton.

“Kalau siswa sejak sekolah sudah dibiasakan menghasilkan sesuatu, maka mereka akan tumbuh dengan mental produktif. Mereka tidak hanya berpikir untuk mencari pekerjaan, tetapi mulai berani berpikir bagaimana menciptakan pekerjaan,” ujar Yakobus.

Tomat Hari Ini, Mental Wirausaha untuk Masa Depan

Panen perdana tomat di SMKN 7 Ende dengan demikian menjadi lebih dari sekadar hasil tanaman yang dipetik dari kebun sekolah. Ia menjadi simbol kecil dari sebuah perubahan cara pandang: bahwa sekolah harus mampu menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Dari sebutir benih, siswa belajar tentang proses. Dari tanaman yang tumbuh, mereka belajar tentang kesabaran. Dari hasil panen, mereka belajar tentang produktivitas. Dan dari proses mengolah serta memasarkannya, mereka belajar tentang kewirausahaan.

Baca Juga : Doris Alexander Rihi: Kelimutu Tak Boleh Berdiri Sendiri, Produk Ekraf Harus Menjadi Alasan Wisatawan Tinggal dan Berbelanja

Yakobus berharap apa yang dilakukan SMKN 7 Ende dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya di Kabupaten Ende maupun NTT.

“Selamat untuk SMK Negeri 7 Ende. Panen perdana ini harus menjadi awal, bukan akhir. Jadikan kebun sekolah sebagai ruang belajar, ruang berkreasi dan ruang untuk melahirkan generasi yang mampu berdiri di atas kekuatan dan potensi daerahnya sendiri,” tutup Yakobus.

Sebab pendidikan yang hebat bukan hanya melahirkan siswa yang mampu menjawab soal di ruang kelas, tetapi generasi yang mampu menjawab tantangan kehidupan dengan karya. (Kontributor Narator NTT : Paul. S)

WhatsApp Image 2026 09 21 At 09.04.42
Dok: BPAD NTT
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *