Breaking News
01:19

RAHASIA MANIS DARI TUAMESE! Saboak dan Nira Lontar Berubah Jadi Produk Unggulan Siap Tembus Pasar

Bagikan
Lihat Tersimpan

KEFAMENANU – NARATOR NTT, 24 September 2026 — Desa Wisata Tuamese, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), kembali menunjukkan bahwa kekayaan lokal tidak harus berhenti sebagai bahan mentah. Dari tangan kreatif masyarakat, buah saboak dan nira lontar kini disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi: Dodol Saboak dan Gula Semut.

Transformasi tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Pelatihan Bimbingan Teknis dan Pendampingan Ekonomi Kreatif di Desa Tuamese. Sebelum masuk ke tahap produksi, masyarakat terlebih dahulu dibekali berbagai pengetahuan fundamental untuk membangun usaha yang kuat, profesional, dan berkelanjutan.

Materi yang diberikan tidak sekadar berbicara tentang bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana membangun jiwa entrepreneurship berbasis potensi lokal.

Baca Juga : KERINDUAN WARGA TUAMESE TERBAYAR! DORIS RIHI TEGASKAN: EFISIENSI ANGGARAN TAK BOLEH HENTIKAN PERHATIAN

Masyarakat didorong untuk mengubah cara pandang terhadap kekayaan alam yang selama ini tersedia di sekitar mereka. Bahan baku lokal tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas mentah, tetapi sebagai sumber ekonomi yang dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah dan daya jual lebih tinggi.

BUKAN SEKADAR PRODUK, TAPI STANDAR USAHA NAIK KELAS

Penguatan kapasitas masyarakat juga menyentuh aspek hospitality, higienitas, dan service excellence.

Materi ini menjadi penting karena Desa Wisata Tuamese memiliki potensi untuk menjadi tujuan kunjungan wisatawan. Karena itu, kualitas produk harus berjalan beriringan dengan kebersihan, pelayanan, serta pengalaman konsumen.

Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko serta mekanisme pengajuan izin usaha.

Tidak berhenti di sana, penguatan legalitas dilanjutkan dengan materi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi pelaku UMKM. Materi tersebut mencakup pentingnya pendaftaran merek, desain kemasan, hingga perlindungan Indikasi Geografis bagi produk khas daerah.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya diarahkan mampu membuat produk, tetapi juga memahami bagaimana produk tersebut dibangun menjadi sebuah brand lokal yang memiliki identitas dan perlindungan hukum.

WhatsApp Image 2026 09 25 At 07.18.18
Dok Foto: Paul S

DARI TEORI LANGSUNG KE DAPUR PRODUKSI

Antusiasme warga semakin terlihat ketika kegiatan memasuki tahap praktik.

Masyarakat Tuamese secara langsung mengolah dua potensi lokal utama kawasan tersebut, yakni buah saboak dan nira lontar.

Buah saboak diolah menjadi Dodol Saboak, sementara nira lontar diproses menjadi Gula Semut.

Teknik pengolahan dilakukan dengan memperhatikan aspek higienitas, kualitas bahan baku, estetika produk, hingga proses pengemasan.

Pada pengolahan Gula Semut, peserta diperkenalkan dengan teknik kristalisasi dan pengadukan sehingga menghasilkan butiran gula yang halus dengan aroma khas alami.

Baca Juga : UMKM Sumba Barat Daya Tak Boleh Jalan di Tempat! Produk Lokal Didorong Tembus Pasar Nasional hingga Internasional

Sementara itu, Dodol Saboak berhasil diolah dengan tekstur kenyal dan cita rasa legit yang menjadi karakter khas bahan baku lokal Tuamese.

Hasil praktik tersebut menjadi bukti bahwa potensi bahan mentah dari kawasan Tuamese dapat ditingkatkan menjadi produk pangan olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

EMPAT UMKM BARU LAHIR, TUAMESE MULAI PUNYA PRODUK ANDALAN

Dampak kegiatan tidak berhenti pada produk yang dihasilkan.

Rangkaian pembekalan dan praktik tersebut juga berhasil mendorong terbentuknya empat kelompok UMKM baru di Desa Wisata Tuamese.

Keempat kelompok tersebut yakni:

  1. Kelompok UMKM Gula Semut Tirosa
  2. Kelompok UMKM Gula Semut Sejuta Lontar Tuamese
  3. Kelompok UMKM Dodol Mutiara Tua
  4. Kelompok UMKM Dodol Tradisional Tuamese (D’Tatu)

Empat kelompok ini menjadi wadah baru bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha secara lebih terorganisasi.

Mereka kini memiliki bekal mulai dari kewirausahaan, standar higienitas, pelayanan konsumen, perizinan usaha, HKI, hingga teknik produksi Dodol Saboak dan Gula Semut.

DARI TUAMESE UNTUK PASAR YANG LEBIH LUAS

Langkah tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata penerjemahan semangat Dasa Cita “Ayo Bangun NTT” melalui pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Konsep One Village One Product (OVOP) juga mulai mendapatkan bentuk nyata di Tuamese: bahan mentah lokal tidak dibiarkan berhenti sebagai komoditas, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki identitas, kemasan, dan nilai jual.

Harapannya, Dodol Saboak dan Gula Semut tidak hanya menjadi hasil pelatihan, tetapi berkembang menjadi produk unggulan Desa Wisata Tuamese yang dikenal lebih luas.

Jika konsisten dikembangkan dari sisi kualitas, kemasan, legalitas, branding, pemasaran, dan kapasitas produksi, dua produk tersebut berpeluang menjadi bagian dari identitas oleh-oleh khas TTU.

Baca Juga :Dasa Cita Jadi Harapan Baru UMKM Bertumbuh, Yaya: Terima Kasih Gubernur Melki Laka Lena

Bagi masyarakat Tuamese, lahirnya empat kelompok UMKM sekaligus produk olahan saboak dan nira lontar menjadi langkah penting setelah sekian lama menantikan penguatan kapasitas ekonomi desa.

Kini, potensi itu sudah mulai berubah menjadi produk.

Dari kebun dan pesisir Tuamese, saboak dan nira lontar naik kelas—menjadi dodol dan gula semut yang membawa harapan baru bagi ekonomi masyarakat. (Tim Narator NTT/Paul S)

Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *