Breaking News
04:45

Bukan Lagi Sekadar Bahan Mentah! Dari Sabu Raijua, Gula Semut dan Dodol Didorong Tembus Pasar Lebih Luas

Bagikan
Lihat Tersimpan

SABU RAIJUA – NARATOR NTT, 16 September 2026 — Dari ladang dan kebun Sabu Raijua, sebuah pesan kuat kembali digaungkan: potensi lokal NTT tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah.

Di tangan masyarakat, bahan baku lokal harus diolah menjadi produk bernilai tambah, dikemas lebih menarik, memiliki identitas yang kuat, serta mampu bergerak dari pasar lokal menuju pasar yang lebih luas.

Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Pengembangan Produk Ekonomi Kreatif yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur dan resmi dibuka di Kabupaten Sabu Raijua, Rabu, 16 September 2026.

BACA JUGA: Dasa Cita Jadi Harapan Baru UMKM Bertumbuh, Yaya: Terima Kasih Gubernur Melki Laka Lena

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi program Dasa Cita Pemerintah Provinsi NTT, khususnya agenda “Pariwisata Penggerak Ekonomi Lokal”, “Dari Ladang dan Laut ke Pasar”, serta pendekatan One Village One Product (OVOP).

Sabu Raijua dengan kekayaan potensi lokalnya dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan melalui kreativitas dan inovasi masyarakat.

Karena itu, pelatihan kali ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana menghasilkan sebuah produk. Lebih jauh, peserta didorong memahami bagaimana sebuah produk dapat memiliki nilai tambah, varian, kualitas, kemasan, identitas, hingga daya saing di pasar.

Gula Semut dan Dodol Jadi Produk Andalan

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Godlief Elliek, selaku pengampu teknis kegiatan, mengatakan pelatihan kali ini difokuskan pada pengolahan gula semut dan dodol.

Menurut Godlief, pemilihan kedua produk tersebut merupakan bagian dari strategi mendorong potensi lokal agar tidak hanya dijual dalam bentuk awal, tetapi mampu diolah menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.

“Kita ingin produk lokal tidak berhenti pada bentuk awalnya. Potensi yang ada harus diolah sehingga memiliki nilai tambah. Gula semut dan dodol menjadi bagian dari upaya kita untuk mendorong pelaku UMKM menghasilkan produk yang lebih siap dikembangkan dan dipasarkan,” ujar Godlief.

Ia menegaskan, pengembangan UMKM tidak cukup hanya dilakukan dengan mengajarkan teknik produksi.

BACA JUGA: Lahan Tidur Disulap Jadi Kebun Kreatif, Ketua DPRD NTT: ASN Parekraf Buktikan Inovasi Tak Harus Mahal

Pelaku UMKM juga harus memiliki keberanian untuk melakukan inovasi dan diversifikasi produk.

Satu bahan baku lokal, menurutnya, harus dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dan varian dengan karakter serta segmen pasar yang berbeda.

“UMKM harus terus bergerak dan berinovasi. Jangan hanya menghasilkan produk yang sama dari waktu ke waktu. Kita harus berpikir tentang varian, kualitas, kemasan dan bagaimana produk tersebut memiliki daya tarik ketika berada di pasar,” katanya.

Dari Ladang dan Laut, Menuju Pasar

Bagi Pemerintah Provinsi NTT, pengembangan ekonomi kreatif merupakan bagian dari strategi memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi daerah.

Masyarakat tidak boleh hanya berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku. Melalui proses pengolahan, inovasi dan penguatan produk, masyarakat harus memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menikmati nilai ekonomi dari sumber daya yang mereka miliki.

Karena itu, “Dari Ladang dan Laut ke Pasar” tidak sekadar menjadi slogan pembangunan.

Pesan tersebut harus diterjemahkan dalam kemampuan masyarakat mengolah sumber daya lokal menjadi produk yang mempunyai nilai jual, kualitas dan daya saing.

Gula semut dan dodol menjadi contoh bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan melalui sentuhan kreativitas dan pengetahuan.

Produk UMKM Juga Didorong Mendapat Perlindungan HKI

Pengembangan produk tidak berhenti pada proses produksi.

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT juga memberikan perhatian terhadap aspek perlindungan karya UMKM.

Pemerintah akan membantu proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi karya dan produk UMKM yang dibina.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam membangun identitas produk sekaligus memberikan perlindungan hukum terhadap karya masyarakat.

Dengan HKI, produk UMKM tidak hanya diharapkan semakin dikenal, tetapi juga memiliki fondasi yang lebih kuat dalam membangun merek dan daya saing produk lokal NTT.

Pelatihan Disusun Berdasarkan Kebutuhan UMKM

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana kegiatan, Petrus Karbon Kami, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan secara teknis dengan mempertimbangkan kebutuhan pelaku UMKM di Kabupaten Sabu Raijua.

Menurut Petrus, jenis produk yang menjadi fokus pelatihan tidak ditentukan secara sepihak.

Materi tersebut disusun berdasarkan masukan dari pelaku UMKM melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Sabu Raijua.

“Secara teknis kegiatan ini telah direncanakan dengan baik. Penentuan produk olahan yang dilatih juga berdasarkan masukan dari UMKM melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Sabu Raijua. Jadi, materi yang diberikan diharapkan benar-benar menjawab kebutuhan peserta,” jelas Petrus.

Ia berharap peserta mengikuti seluruh proses pelatihan dengan serius dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan kualitas usaha yang mereka kelola.

BACA JUGA : Keterbatasan fiskal Bukan Alasan, DisParekraf NTT Tetap Jaga Asa Ekonomi Lokal Tumbuh

Terlebih, narasumber dan instruktur yang dihadirkan merupakan pakar dan praktisi yang memiliki kompetensi di bidangnya.

“Kami berharap peserta dapat memanfaatkan kesempatan pelatihan ini sebaik mungkin untuk pengembangan UMKM yang dikelolanya. Narasumber dan para instruktur yang dihadirkan adalah para pakar dan praktisi yang sangat qualified, sehingga kesempatan ini harus dimanfaatkan secara maksimal,” tutupnya.

Target Besarnya: UMKM Sabu Raijua Naik Kelas

Pada akhirnya, kegiatan di Sabu Raijua bukan semata-mata tentang gula semut dan dodol.

Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun cara pandang baru terhadap potensi ekonomi lokal.

Bahan baku lokal harus naik kelas.

Produk masyarakat harus semakin berkualitas. Kemasan harus semakin menarik. Varian harus semakin beragam. Identitas produk harus semakin kuat. Dan karya pelaku UMKM harus mendapatkan perlindungan melalui HKI.

Dengan pendekatan tersebut, ekonomi kreatif diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan semata.

Ekonomi kreatif harus menjadi mata rantai yang menghubungkan potensi lokal, kreativitas masyarakat, UMKM, pariwisata hingga pasar.

Sabu Raijua menjadi salah satu ruang untuk membuktikan bahwa ketika potensi lokal dipadukan dengan pengetahuan, kreativitas, inovasi dan dukungan pemerintah, maka sesuatu yang lahir dari ladang dan laut NTT dapat bergerak lebih jauh.

Dari tangan masyarakat menuju pasar. Dari potensi lokal menjadi produk bernilai tambah. Dan dari produk lokal menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat NTT. (Kontributor Paul S)

Penulis

admin

2 tanggapan untuk “Bukan Lagi Sekadar Bahan Mentah! Dari Sabu Raijua, Gula Semut dan Dodol Didorong Tembus Pasar Lebih Luas”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *