MALAKA–BELU, NARATOR NTT — 3/11/2026, Sehari sebelum bendera start dikibarkan, suasana di depan Gereja St. Maria Fatima Nurobo, Desa Metroi, Kecamatan Laen Manen, Kabupaten Malaka, perlahan mulai berubah.
Belum ada pelari yang bergerak meninggalkan garis start. Belum ada rombongan peserta memenuhi lintasan. Belum ada sorak-sorai panjang seperti yang biasanya terdengar ketika sebuah event besar dimulai.
Tetapi tanda-tandanya sudah terlihat.
Persiapan mulai bergerak. Warga mulai memperhatikan. Orang-orang mulai berdatangan dan melihat titik yang besok menjadi awal perjalanan. Percakapan mulai terdengar. Rasa ingin tahu tumbuh. Antusiasme perlahan muncul.
Ini H-1. Tetapi denyut Tour de EnTeTe sudah mulai terasa.
Baca Juga : TOUR DE ENTETE 2026: MELKI LAKA LENA MENGUBAH LANGKAH KAKI MENJADI GERAKAN EKONOMI NTT
Dari depan Gereja St. Maria Fatima Nurobo inilah Etape I Tour de EnTeTe akan dimulai, menempuh perjalanan menuju Kantor Camat Tasifeto Barat, Kabupaten Belu.
Yang menarik, baik titik start maupun titik finish sama-sama tidak dipilih di tengah gemerlap pusat kota.
Keduanya justru berada lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dan pilihan itu seperti memberikan pesan yang jelas: Tour de EnTeTe tidak ingin hanya memperlihatkan wajah kota kepada peserta, tetapi ingin membawa peserta melihat wajah NTT yang sesungguhnya—wajah masyarakat, kampung, budaya, potensi lokal dan kehidupan sehari-hari.
Dari Nurobo Berangkat, Tasifeto Barat Menyambut
Pandangan mata pada H-1 tidak hanya tertuju ke Nurobo.
Di ujung perjalanan, Kecamatan Tasifeto Barat juga mulai mempersiapkan diri sebagai titik finish.
Jika Nurobo menjadi tempat langkah pertama dimulai, Tasifeto Barat menjadi ruang tempat perjalanan itu menemukan jedanya.
Tetapi finish kali ini bukan sekadar garis akhir. Ia adalah ruang perjumpaan baru.
Peserta yang datang ke Tasifeto Barat tidak sekadar menyelesaikan etape. Mereka akan tiba di tengah masyarakat, melihat kehidupan lokal, bertemu pelaku usaha, mengenal produk ekonomi kreatif dan merasakan suasana daerah yang mungkin berbeda dari lingkungan asal mereka.
Dengan demikian, start dan finish sama-sama menjadi pintu masuk untuk mengenal masyarakat.
Tidak ada jarak yang terlalu jauh antara event dengan kehidupan warga.
Tidak ada batas tegas antara peserta dengan masyarakat.
Justru di situlah gagasan Tour de EnTeTe memperoleh maknanya.
Gagasan Gubernur Melki Menempatkan Masyarakat di Tengah Perjalanan
Gubernur NTT Melki Laka Lena menggagas Tour de EnTeTe dengan format yang berbeda.
Jalan sehat dan lari membuat kegiatan ini lebih terbuka dan partisipatif. Tetapi yang lebih penting, pilihan lintasan dan titik start-finish membawa peserta mendekati ruang hidup masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Doris Alexander Rihi, melihat pilihan tersebut sebagai bagian dari gagasan yang harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata.
“Gagasan Bapak Gubernur adalah bagaimana Tour de EnTeTe tidak hanya menjadi kegiatan olahraga, tetapi menjadi ruang perjumpaan. Karena itu, start dan finish kita dekatkan dengan masyarakat. Kita ingin peserta melihat langsung kehidupan masyarakat, mengenal potensi daerah dan berinteraksi dengan pelaku ekonomi kreatif,” ujar Doris.
Menurut Doris, masyarakat tidak boleh ditempatkan hanya sebagai penonton.
“Masyarakat adalah pemilik destinasi. Mereka yang menjaga, mereka yang hidup di dalamnya, dan mereka yang memiliki produk serta cerita tentang daerahnya.
Karena itu, kegiatan ini harus memberi ruang kepada masyarakat untuk tampil, berpartisipasi dan mendapatkan manfaat,” katanya.
H-1 di Nurobo, H-1 Juga di Tasifeto Barat
Di Nurobo, masyarakat mulai melihat persiapan.
Di Tasifeto Barat, masyarakat juga mulai bersiap menyambut.
Dua titik yang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama.
Menyambut sebuah perjalanan yang membawa orang datang lebih dekat kepada mereka.
Karena itu, Tour de EnTeTe tidak semata-mata dapat dibaca sebagai garis lurus dari Malaka menuju Belu.
Ia adalah perjalanan yang mempertemukan manusia dengan manusia, peserta dengan masyarakat, destinasi dengan pengunjung, produk lokal dengan pasar dan pemerintah dengan masyarakat yang dilayaninya.
Finish Bukan Akhir, ada pesan menarik dari pilihan titik finish di Tasifeto Barat.
Dalam sebuah lomba, garis finish biasanya berarti akhir.
Tetapi dalam Tour de EnTeTe, finish justru dapat menjadi awal dari perjumpaan baru.
Peserta tiba, masyarakat menyambut.
UMKM memperkenalkan produk.
Potensi lokal diperlihatkan.
Cerita tentang daerah dibagikan.
Dan mungkin, dari perjumpaan singkat itu, lahir keinginan untuk kembali. Inilah yang membuat event olahraga dapat menjadi instrumen pariwisata.
Orang datang karena olahraga, tetapi pulang membawa pengalaman tentang sebuah daerah. Dan ketika pengalaman itu kuat, sebuah destinasi tidak lagi hanya dikenal melalui promosi, tetapi melalui pengalaman langsung manusia yang pernah datang ke sana.
Ada Pesan Sosial di Sepanjang Perjalanan
Tour de EnTeTe juga tidak berhenti pada olahraga dan pariwisata.
Ada pesan sosial yang sengaja dibawa. Kunjungan ke rumah warga yang tidak layak huni, dialog dengan masyarakat dan uluran kasih menjadi bagian yang memperlihatkan bahwa perjalanan ini memiliki dimensi kemanusiaan.
“Kita ingin peserta tidak hanya melihat jalan yang dilalui, tetapi juga melihat masyarakat yang hidup di sepanjang perjalanan. Ada saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian. Karena itu, Tour de EnTeTe juga menjadi ruang untuk membangun kepedulian,” ungkap Doris.
Pesan itu menjadi semakin kuat karena start dan finish tidak ditempatkan jauh dari kehidupan masyarakat.
Peserta datang bukan hanya untuk melewati sebuah wilayah, tetapi untuk melihat dan merasakan kehidupan di dalamnya.
UMKM Menunggu di Ujung Perjalanan
Di Tasifeto Barat, kehadiran peserta juga membuka peluang bagi pelaku UMKM.
Mereka bukan sekadar menunggu rombongan lewat.
Mereka menunggu kesempatan untuk memperkenalkan produk.
Kuliner lokal, kerajinan, tenun dan berbagai produk ekonomi kreatif dapat menjadi bagian dari pengalaman peserta ketika tiba di titik finish.
Dari sinilah olahraga bersentuhan dengan ekonomi lokal. Dan dari sinilah gagasan Gubernur Melki tentang event yang memberi manfaat lebih luas mulai diterjemahkan.
Doris menegaskan:“Kita ingin kegiatan ini tidak berhenti ketika peserta tiba di finish. Justru di sana ada ruang interaksi.
Masyarakat bisa memperkenalkan produk, UMKM mendapatkan pasar, dan peserta mendapatkan pengalaman tentang daerah yang mereka datangi,” katanya.
Etape Pertama, Pelajaran untuk Etape Berikutnya : Malaka–Belu adalah etape pembuka.Ia menjadi tonggak pertama untuk menguji sebuah format baru.
Karena itu, etape ini bukan hanya tentang kesuksesan penyelenggaraan, tetapi juga tentang bagaimana seluruh pihak belajar.
Baca Juga : RAHASIA MANIS DARI TUAMESE! Saboak dan Nira Lontar Berubah Jadi Produk Unggulan Siap Tembus Pasar
Apa yang sudah baik diperkuat, yang masih kurang diperbaiki.
Kolaborasi diperluas, sinergi diperkuat. Dan masyarakat semakin ditempatkan sebagai bagian utama dari perjalanan.
68 Tahun NTT: Merayakan dengan Hadir di Tengah Masyarakat
Dalam konteks HUT ke-68 Provinsi NTT, Tour de EnTeTe membawa pesan yang menarik.
Merayakan NTT tidak harus selalu dilakukan di tengah kota.
Ia dapat dilakukan di Nurobo, dapat dilakukan di Tasifeto Barat, dapat dilakukan di jalan-jalan kampung, di tengah UMKM, di tengah masyarakat. Di rumah warga yang membutuhkan perhatian.
Dan di antara peserta yang datang membawa semangat olahraga sekaligus pengalaman baru tentang NTT.
H-1 di Nurobo dan H-1 di Tasifeto Barat sama-sama memperlihatkan bahwa kegiatan ini mulai menjadi milik masyarakat.
Bendera memang belum dikibarkan. Langkah pertama memang belum dimulai.
Tetapi persiapannya sudah menggerakkan banyak pihak.
Dan mungkin itulah makna paling penting dari Tour de EnTeTe:
bukan sekadar membuat orang bergerak dari start menuju finish, tetapi membuat masyarakat di sepanjang perjalanan ikut bergerak, ikut terlibat dan ikut merasakan manfaatnya.
Besok, peserta akan berlari dan berjalan. Dari Nurobo menuju Tasifeto Barat.
Tetapi sesungguhnya, yang sedang ditempuh bukan hanya jarak. Yang sedang ditempuh adalah sebuah gagasan: bahwa olahraga, pariwisata, ekonomi kreatif, kolaborasi dan kepedulian sosial dapat berjalan dalam satu lintasan yang sama. Dan pada H-1 ini, sebelum langkah pertama dimulai, NTT sudah mulai bergerak. (Kontributor: Paul.S)






Tinggalkan Balasan