Breaking News
05:16

Doris Rihi Tegaskan: Jangan Jual Budaya Sumba Sampai Kehilangan Jiwanya

IMG 20261029 WA0022
Bagikan
Lihat Tersimpan

WAINGAPU, NARATOR NTT — 29 Oktober 2026 Ada satu garis merah yang tidak boleh dilampaui ketika ekonomi kreatif masuk ke jantung kebudayaan: budaya boleh dikembangkan, tetapi jangan sampai dikorbankan demi pasar.

Pesan keras itu ditegaskan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Doris Alexander Rihi, saat mengawal langsung pelaksanaan Pelatihan, Bimbingan Teknis dan Pendampingan Ekonomi Kreatif di Kabupaten Sumba Timur, 27–29 Oktober 2026, yang berlangsung di Kampung Raja Prailiu, tepatnya di Kampung Adat Praikamaru.

Baca Juga: MELKI LAKA LENA DORONG TENUN SUMBA TIMUR NAIK KELAS, DORIS RIHI TERJEMAHKAN SPIRIT “AYO BANGUN NTT”

Doris tidak sekadar hadir untuk melihat proses pelatihan dari kejauhan. Ia turun langsung melihat aktivitas peserta, menyaksikan proses pembelajaran, sekaligus menikmati suguhan maha karya budaya yang hidup di Kampung Adat Praikamaru.

Pilihan lokasi ini bukan sekadar soal tempat pelaksanaan kegiatan.

Peserta belajar di tengah ruang budaya yang hidup. Di hadapan mereka terdapat rumah adat Sumba, situs kuburan megalitik, galeri tenun dan rumah tenun Sumba—warisan yang tidak lahir dari program pemerintah, tidak dibentuk oleh proyek sesaat, tetapi tumbuh dari perjalanan panjang masyarakat Sumba lintas generasi.

Di tempat seperti inilah ekonomi kreatif harus belajar satu hal penting: Tidak semua yang bernilai harus diubah agar bisa dijual.

Justru karena memiliki keunikan dan keaslian, budaya itulah yang harus menjadi kekuatan utama untuk menciptakan nilai ekonomi.

Doris menegaskan bahwa hasil pelatihan harus menjadi mozaik baru yang dijahit secara harmonis dengan kekayaan budaya yang telah lebih dahulu ada.

“Hasil pelatihan ini harus menjadi mozaik baru yang dijahit dalam padu-padan yang sempurna dengan keunikan budaya yang sudah lebih dahulu ada. Jangan sampai pelatihan justru menjadi penggerus maha karya budaya yang sudah ada,” tegas Doris.

Menurut Doris, perubahan pada produk ekonomi kreatif merupakan bagian dari dinamika kreativitas. Produk boleh mengalami penyempurnaan bentuk, desain, kemasan maupun cara pemasaran.

Tetapi ada batas yang tidak boleh dilanggar.

Wajah produk boleh berubah, tetapi wajah budayanya tidak boleh hilang.

Pelatihan boleh melahirkan desain baru. Kreativitas boleh membuka pasar baru. Teknologi boleh memperluas jangkauan promosi.

Baca : DARI PERCA TENUN HINGGA MANGGULU, NTT DORONG SUMBA TIMUR MENGUBAH WARISAN BUDAYA MENJADI KEKUATAN EKONOMI

Namun semuanya harus tetap berdiri di atas kecintaan, pengetahuan dan penghormatan terhadap budaya Sumba.

Sebab ketika budaya hanya dilihat sebagai komoditas, yang terancam bukan hanya bentuk fisiknya, tetapi juga makna yang terkandung di dalamnya.

Di situlah bahaya dimulai.

Tenun akhirnya hanya dilihat sebagai kain. Rumah adat hanya menjadi latar foto. Kuburan megalitik hanya menjadi objek kunjungan. Motif tradisional hanya dipandang sebagai ornamen. Bahkan keramahan masyarakat hanya diposisikan sebagai strategi pelayanan wisata.

Doris menolak cara pandang seperti itu.

Baginya, ekonomi kreatif harus memperkuat budaya, bukan menggerusnya. Komersialisasi harus memberi nilai tambah kepada masyarakat, bukan menghilangkan makna dari warisan yang mereka miliki.

Produk boleh mengikuti zaman. Identitas tidak boleh tunduk kepada zaman.

Wairinding: Jangan Hanya Indah untuk Difoto

Pesan yang sama berlaku bagi peserta yang datang dari desa wisata seperti Wairinding.

Wairinding memiliki modal yang tidak bisa dibeli dengan uang: bentang alam perbukitan yang memesona, lanskap yang khas dan pengalaman ruang yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tetapi keindahan saja tidak cukup.

Keindahan itu harus dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang membuat wisatawan betah tinggal lebih lama, menikmati lebih banyak pengalaman dan membelanjakan uangnya di tengah masyarakat lokal.

Produk ekonomi kreatif, kuliner, kerajinan, atraksi budaya, jasa wisata dan keramahan masyarakat harus dirangkai menjadi satu pengalaman wisata yang utuh.

Wairinding jangan hanya menjadi tempat orang datang untuk berfoto. Wairinding harus menjadi tempat orang datang untuk mengalami, menikmati, membeli, tinggal dan ingin kembali.

Di titik inilah ekonomi kreatif menjadi mesin penggerak pariwisata.Dan pariwisata harus menjadi mesin perputaran ekonomi masyarakat.

Ayo Bangun NTT dengan Wajah NTT

Semangat Ayo Bangun NTT tidak berarti mengubah NTT menjadi seperti daerah lain. Justru sebaliknya.

NTT harus maju karena menjadi dirinya sendiri. Sumba tidak harus kehilangan identitas Sumba agar produknya diterima pasar. Wairinding tidak perlu kehilangan keasliannya agar wisatawan datang.

Kampung adat tidak perlu berubah menjadi pusat perdagangan agar masyarakat memperoleh manfaat ekonomi. Yang harus berubah adalah cara mengelola potensi, bukan identitas yang menjadi sumber kekuatan.

Karena itu, Doris menempatkan pelatihan ini bukan sekadar sebagai agenda peningkatan keterampilan produksi, desain, kemasan atau pemasaran.

Lebih jauh, pelatihan harus melahirkan pelaku kreatif yang memahami nilai, cerita dan ruh budaya yang berada di balik setiap produk.

Sebab produk yang kehilangan cerita hanya menjadi barang.

Tetapi produk yang membawa cerita, identitas dan nilai budaya dapat menjadi pengalaman.

Dan pengalaman itulah yang dicari wisatawan.

Dari Kampung Adat Praikamaru, Doris menegaskan satu pesan yang sederhana tetapi menghentak:

“Jangan jual budaya sampai budaya itu kehilangan jiwanya.”

Bangun kreativitasnya. Perluas pasarnya. Naikkan kualitas produknya. Tingkatkan pendapatan masyarakatnya.

Tetapi jangan cabut akarnya. Sebab ekonomi kreatif yang mematikan budaya adalah kemajuan yang keliru arah. Sebaliknya, ekonomi kreatif yang membuat budaya semakin dikenal, semakin dicintai, semakin dihargai dan semakin memberikan kesejahteraan bagi masyarakat adalah wajah pembangunan NTT yang sesungguhnya.

Ayo Bangun NTT. Bukan dengan mengubah wajah NTT menjadi wajah orang lain, tetapi dengan membuat wajah NTT semakin kuat, semakin bernilai dan semakin membanggakan.

Dari Praikamaru, dari Wairinding, dari Sumba, pesan itu menemukan bentuknya:

Baca Juga: Koko-Cici NTT Jangan Hanya Jadi Mahkota: Pesan Melki Laka Lena, Jadilah Wajah yang Membawa NTT ke Dunia

Budaya adalah akar, kreativitas adalah cabang, pariwisata adalah jembatan, dan kesejahteraan masyarakat adalah buahnya. (Kontributor : Paul. S)

Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *