Breaking News
06:39

TUTUP BIMTEK EKRAF DI TUAMESE, DORIS RIHI: JIKA KONSISTEN, POTENSI DESA INI BISA JADI “MERCUSUAR” PARIWISATA TTU

Editor: Omar
Bagikan
Lihat Tersimpan

KEFAMENANU, NARATOR NTT — 25 September 2026 — Desa Tuamese di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) tidak hanya menyimpan panorama alam. Di balik keterbatasan akses, desa ini juga memiliki potensi ekonomi kreatif yang mulai menemukan bentuknya.

Hal itu terlihat dalam penutupan rangkaian Pelatihan, Bimbingan Teknis, dan Pendampingan Ekonomi Kreatif yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jumat (25/9/2026).

Pelatihan yang sejak awal diarahkan untuk mengembangkan dodol saboak dan gula semut sebagai produk oleh-oleh khas TTU itu berujung pada terbentuknya empat kelompok UMKM baru di Desa Tuamese.

Keempat kelompok tersebut adalah UMKM Gula Semut Tirosa, Gula Semut Sejuta Lontar Tuamese, Dodol Mutiara Tua, dan Dodol Tradisional Tuamese (D’Tatu).

Bagi pemerintah daerah, capaian tersebut menjadi salah satu pijakan untuk mendorong masyarakat mengolah potensi lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Baca Juga : DARI LONTAR KE PASAR NASIONAL! SABOAK & NIRA TUAMESE “NAIK KELAS”, LODY ADU & ADELCI TITIP PESAN UNTUK PEMPROV NTT

Namun, bagi Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Drs. Doris Alexander Rihi, M.Si., pelatihan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh masyarakat, kata dia, harus menjadi modal untuk mengembangkan potensi yang telah dimiliki Desa Tuamese.

“Bekal yang diperoleh hari ini yaitu pengetahuan dan keterampilan yang sudah didapat, kiranya menjadi bekal untuk mampu memberdayakan diri dan seluruh potensi sumber daya alam yang ada di Tuamese,” ujar Doris di hadapan peserta.

Keterbatasan Akses Bukan Alasan Berhenti

Doris juga menyinggung salah satu tantangan yang selama ini dihadapi masyarakat Tuamese, yakni keterbatasan akses menuju desa.

Menurut dia, berbagai keterbatasan tersebut perlu ditempatkan sebagai tantangan yang dihadapi bersama, bukan alasan untuk menghentikan pengembangan potensi desa.

“Semua kekurangan dan kesulitan seperti susahnya akses menuju Tuamese adalah tantangan yang tidak boleh membuat kita semua menyerah dan putus asa,” katanya.

Doris meminta masyarakat tidak berhenti pada persoalan keterbatasan, tetapi melihat potensi yang telah tersedia dan terus mengembangkannya.

“Kita semua tidak boleh fokus pada kekurangan yang ada, tetapi harus berfokus untuk mengembangkan potensi-potensi yang hari ini sudah kita kembangkan dan juga potensi-potensi lainnya yang ada di Tuamese,” lanjutnya.

Baca Juga : Wisatawan Jangan Cuma Foto! UMKM Didorong Tangkap Belanja Turis Agar Uang Berputar Di NTT

Pesan tersebut menjadi penting karena pengembangan ekonomi kreatif di desa tidak hanya bergantung pada keberadaan bahan baku, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengolah, mengemas, memasarkan, dan menjaga kesinambungan produk.

Doris: Tuamese Bisa Menjadi “Mercusuar”

Optimisme Doris terhadap Tuamese tidak berhenti pada produk olahan saboak dan nira lontar.

Ia melihat pengembangan produk lokal sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan potensi desa secara lebih luas.

Jika dilakukan secara konsisten, kata Doris, berbagai potensi tersebut dapat berkembang menjadi daya tarik baru bagi pariwisata dan ekonomi kreatif di TTU.

“Jika kita konsisten dan fokus, potensi-potensi di Tuamese yang kita kembangkan hari ini dan juga potensi-potensi lainnya, di kemudian hari akan menjadi ‘Mercusuar’, sebuah daya tarik kuat yang menyala terang dan mengundang banyak pihak dari berbagai daerah untuk berkunjung ke Tuamese,” ungkapnya.

Istilah “mercusuar” yang digunakan Doris menggambarkan harapannya agar Tuamese tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena produk lokal dan aktivitas ekonomi kreatif yang tumbuh dari masyarakat.

Dengan demikian, wisatawan yang datang tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga memiliki alasan untuk mengenal dan membawa pulang produk yang lahir dari desa tersebut.

Dok Foto: Paul S

Empat Kelompok UMKM Jadi Titik Awal

Terbentuknya empat kelompok UMKM menjadi salah satu hasil konkret dari rangkaian kegiatan tersebut.

Kelompok-kelompok itu diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk bekerja bersama dalam mengembangkan produk, menjaga kualitas, serta memperluas peluang pasar.

Namun, keberlanjutan kelompok juga membutuhkan modal sosial berupa kepercayaan dan kebersamaan.

Karena itu, Doris secara khusus mengingatkan peserta agar menjaga hubungan di dalam kelompok.

“Jangan lupa untuk saling menerima, jangan saling curiga, tetapi saling percaya dan saling membantu agar kelompok-kelompok yang telah terbentuk ini tetap eksis dan mampu meraih keberhasilan,” pesannya.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk. Kekompakan anggota, konsistensi produksi, pengelolaan usaha, dan kemampuan melihat peluang pasar juga menjadi bagian penting dalam perjalanan kelompok.

Dari Saboak dan Nira, Ekonomi Desa Mulai Bergerak

Rangkaian pelatihan di Tuamese akhirnya ditutup dengan sebuah pekerjaan rumah yang jauh lebih besar: bagaimana memastikan keterampilan yang telah diberikan benar-benar tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan.

Saboak dan nira lontar telah mendapatkan bentuk baru melalui dodol dan gula semut. Empat kelompok UMKM juga telah terbentuk.

Kini, keberlanjutan berada di tangan masyarakat untuk mengembangkan potensi tersebut secara konsisten, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Baca Juga : Bukan Sekadar Pelatihan! 6 UMKM Sumba Barat Daya Langsung Kantongi NIB, Pemprov NTT Dorong Usaha Naik Kelas

Tuamese memiliki bahan baku, masyarakat yang mulai terampil, serta kelompok usaha yang telah terbentuk. Tinggal bagaimana seluruh potensi tersebut dirawat dan dikembangkan agar memberikan nilai ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat.

Dari sebuah desa dengan tantangan akses, Tuamese kini sedang mencoba menulis cerita lain: bahwa keterbatasan tidak harus menjadi akhir perjalanan, melainkan titik awal untuk menemukan kekuatan sendiri.

Dan seperti pesan Doris Rihi, jika potensi itu dikembangkan secara konsisten dan bersama-sama, “mercusuar” Tuamese bukan lagi sekadar harapan, tetapi sebuah cita-cita yang sedang mulai dinyalakan. (Kontributor Krishna. B)

Flayer Pergub No.54.Keringanan Pajak Kendaraan Bermotor Tahap 2(Dok.BPAD NTT)
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *