Breaking News
12:39

PMKRI Setelah Ruteng: Jangan Wariskan Perpecahan, Wariskan Kedewasaan

WhatsApp Image 2026 09 26 At 19.16.19
Bagikan
Lihat Tersimpan

OPINI | Paulus Histo Safrodan

Ada saatnya seorang alumni harus bicara.

Tetapi ada pula saatnya seorang alumni harus menahan diri untuk tidak ikut menentukan.

Bagi saya, dinamika dualisme kepengurusan PP PMKRI setelah Kongres XXXIV dan MPA XXXIII di Ruteng adalah salah satu momentum ketika sikap kedua justru lebih dibutuhkan.

Bukan karena persoalan ini kecil.

Justru karena persoalan ini besar.

Kongres XXXIV dan MPA XXXIII PMKRI berlangsung di Ruteng pada 19–25 Juli 2026. Agenda tersebut sejak awal dirancang bukan sekadar sebagai forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi organisasi dan pembahasan berbagai persoalan kebangsaan.

Dalam dinamika pemilihan sebagaimana berkembang setelah forum tersebut, muncul persoalan mengenai legitimasi dan kepengurusan yang kemudian menjadi perdebatan internal.

Di titik inilah saya ingin mengatakan sesuatu yang mungkin tidak populer:

Jangan buru-buru melihat konflik sebagai kehancuran PMKRI.

Bisa jadi, justru inilah ujian terbesar terhadap kedewasaan kader PMKRI.


CONFLICT IS NOT THE ENEMY

Konflik bukan selalu musuh organisasi.

Dalam organisasi, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Bahkan, dalam banyak situasi, konflik dapat membuka persoalan yang selama ini tersembunyi, memaksa organisasi memeriksa kembali aturan, dan mendorong lahirnya solusi.

Yang berbahaya bukan semata-mata adanya konflik. Yang berbahaya adalah ketika konflik kehilangan kendali dan berubah menjadi permusuhan.

Kita boleh berbeda dalam pertandingan.Tetapi jangan sampai lupa bahwa kita bermain untuk rumah yang sama.

Di situlah gagasan concordia discors menjadi relevan: persatuan tidak selalu berarti keseragaman. Persatuan dapat lahir justru dari kemampuan mengelola perbedaan.

PMKRI bukan organisasi yang dibangun untuk menghasilkan kader yang selalu sepakat.

PMKRI adalah organisasi kader yang seharusnya mampu menghasilkan manusia yang mampu berbeda tanpa kehilangan persaudaraan.


RUTENG JANGAN MENJADI MONUMEN PERPECAHAN

Ada pesan yang patut direnungkan kembali dari rangkaian Kongres dan MPA di Ruteng.

Mgr. Siprianus Hormat, dalam homilinya saat pembukaan kongres, menyampaikan pesan mengenai pentingnya melahirkan pemimpin yang bijaksana dan menjaga persaudaraan kader.

Pesan itu terasa semakin relevan ketika dinamika organisasi berkembang setelah forum nasional berakhir.

Sebab setiap pemilihan selalu menghadirkan dua kemungkinan:

Ada yang mendapatkan mandat.

Ada yang belum mendapatkan mandat.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang:

persaudaraan.

Kemenangan tidak boleh berubah menjadi kesombongan.

Kekalahan tidak boleh berubah menjadi permusuhan.

Vae victis—“celakalah bagi yang kalah”—bukan filosofi yang seharusnya hidup dalam organisasi kader.

PMKRI membutuhkan prinsip yang lebih luhur:

kepentingan perhimpunan harus berada di atas kepentingan kelompok.

Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar kursi Ketua Presidium.

Yang dipertaruhkan adalah keberlanjutan kaderisasi, persaudaraan, intelektualitas, Kristianitas, serta pengabdian PMKRI kepada Gereja dan Tanah Air.


BELAJAR DARI PMKRI KUPANG

Dalam konteks ini, pengalaman PMKRI Kupang layak menjadi bahan refleksi.

Pada RUAC PMKRI Cabang Kupang tahun 2025, Apolinaris Mhau terpilih sebagai Ketua Presidium/Formatur Tunggal untuk periode 2025–2026. Pemberitaan mengenai proses tersebut menggambarkan pemilihan berlangsung dalam suasana demokratis dan kekeluargaan.

Tentu, pengalaman satu cabang tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh perjalanan PMKRI.

Tetapi ada satu pelajaran penting yang bisa direnungkan:

demokrasi organisasi bukan hanya tentang bagaimana memenangkan kontestasi.

Demokrasi juga tentang bagaimana menerima hasil kontestasi.

Kompetisi boleh keras.

Argumentasi boleh tajam.

Perbedaan pilihan boleh terjadi.

Tetapi setelah keputusan lahir, persaudaraan harus kembali mengambil tempat.

Sebab orang yang hari ini menjadi kompetitor, tidak mustahil menjadi mitra perjuangan pada hari berikutnya.

Di situlah kedewasaan organisasi diuji.


TIGA BENANG MERAH PMKRI SEDANG DIUJI

PMKRI memiliki tiga benang merah yang sangat fundamental:

Fraternitas.
Intelektualitas.
Kristianitas.

Namun ketiganya jangan berhenti sebagai slogan.

Fraternitas

Fraternitas tidak diuji ketika kita sedang bersahabat dengan orang yang sepemikiran.

Fraternitas diuji ketika saudara sendiri berbeda pilihan.

Apakah kita masih mampu menyebutnya saudara?

Intelektualitas

Intelektualitas tidak diuji ketika argumentasi kita diterima forum.

Intelektualitas justru diuji ketika argumentasi kita ditolak.

Apakah kita masih mau membaca aturan?

Masih mau memeriksa fakta?

Masih mau mendengar argumentasi pihak lain?

Atau justru mengganti argumentasi dengan tuduhan, label dan pengerahan massa?

Kristianitas

Kristianitas tidak hanya diuji ketika kita berbicara tentang kasih di ruang ibadah.

Kristianitas diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda sikap, tetapi kita tetap mampu menghormati martabatnya.

Caritas in veritate—kasih dalam kebenaran.

Kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kesombongan moral.

Sebaliknya, kasih tanpa keberanian memperjuangkan kebenaran dapat berubah menjadi kompromi yang tidak menyelesaikan persoalan.

Karena itu PMKRI membutuhkan keduanya:

ketegasan dalam prinsip dan kedewasaan dalam cara.


ALUMNI TIDAK HARUS MENJADI WASIT

Di tengah situasi ini, saya memilih untuk tidak masuk ke dalam konflik dualisme kepemimpinan.

Saya tidak berdiri sebagai bagian dari kubu A.

Saya juga tidak berdiri sebagai bagian dari kubu B.

Saya berdiri sebagai alumni yang percaya kepada kader PMKRI.

Pilihan ini bukan sikap apatis.

Ini adalah bentuk kepercayaan.

Konflik ini adalah bagian dari dinamika internal PMKRI.

Maka penyelesaiannya pun semestinya lahir dari mekanisme organisasi PMKRI sendiri.

Saya tidak ingin alumni mengambil alih ruang yang seharusnya menjadi ruang belajar kader.

Sebab kalau setiap kali PMKRI menghadapi persoalan, alumni turun tangan untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, kita perlu bertanya:

Apakah kita sedang membantu kader, atau justru merampas kesempatan kader untuk belajar menyelesaikan persoalannya sendiri?

Alumni boleh menjadi penjaga nilai.

Alumni boleh memberikan nasihat.

Alumni boleh mengingatkan sejarah.

Tetapi alumni tidak harus menjadi hakim atas setiap konflik generasi berikutnya.

Saya justru ingin memberikan sesuatu yang lebih besar:

kepercayaan.

Saya percaya kader PMKRI mampu menyelesaikan persoalannya sendiri.


JANGAN SAMPAI PMKRI KALAH OLEH EGO

Yang paling mengkhawatirkan dari sebuah konflik bukanlah perbedaan pendapat.

Yang berbahaya adalah ketika identitas kelompok menjadi lebih penting daripada identitas perhimpunan.

Ketika:

“kubu saya” lebih penting daripada “PMKRI kita”.

Ketika kemenangan pribadi dianggap sebagai kemenangan organisasi.

Ketika kekalahan pribadi dianggap sebagai kekalahan organisasi.

Padahal organisasi jauh lebih besar daripada siapa pun yang sedang menduduki jabatan.

Karena itu, jangan wariskan dendam dari Ruteng.

Wariskan pelajaran dari Ruteng.

Jangan wariskan daftar siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Wariskan tradisi bahwa setelah kompetisi, kader masih mampu duduk satu meja.

Masih mampu berdialog.

Masih mampu berjabat tangan.

Dan masih mampu menyebut satu sama lain sebagai saudara.


KETUA BUKAN PEMILIK PMKRI

Ada satu hal yang sering dilupakan dalam setiap kontestasi organisasi:

Ketua bukan pemilik organisasi.

Mandat bukan mahkota.

Jabatan bukan kerajaan.

Kepemimpinan adalah munus—tugas, tanggung jawab dan pelayanan.

Karena itu, siapa pun yang memperoleh mandat harus memahami bahwa mandat tersebut membawa kewajiban untuk melayani seluruh kader, termasuk mereka yang tidak memilihnya.

Begitu pula mereka yang belum mendapatkan mandat.

Kalah dalam satu kontestasi bukan berarti kehilangan hak untuk tetap menjadi bagian penting dari perhimpunan.

Dalam demokrasi yang sehat, kompetitor hari ini dapat menjadi mitra perjuangan besok.

Karena itu:

Konflik harus dikelola, bukan dipelihara.


UJIAN SEBENARNYA BUKAN SIAPA YANG MENANG

Bagi saya, pertanyaan terbesar dari dinamika pasca-Ruteng bukan:

“Siapa yang menang?”

Bukan pula:

“Siapa yang kalah?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Apakah PMKRI mampu menyelesaikan persoalannya tanpa kehilangan PMKRI itu sendiri?”

Itulah ujian sebenarnya.

Jika persoalan dapat diselesaikan melalui mekanisme organisasi, dialog, aturan dan penghormatan terhadap persaudaraan, maka Ruteng dapat dikenang sebagai laboratorium kedewasaan organisasi.

Tetapi jika konflik justru berkembang menjadi permusuhan berkepanjangan, maka kita perlu bertanya kembali tentang makna kaderisasi yang selama ini kita banggakan.

Sebab finis coronat opus—akhir memberi makna pada sebuah karya.

Pada akhirnya, sejarah mungkin mencatat siapa yang duduk di kursi Ketua Presidium.

Tetapi sejarah organisasi akan mencatat sesuatu yang jauh lebih penting:

Apakah kader-kader PMKRI mampu menjaga rumah besar ini tetap berdiri setelah badai konflik berlalu?


SAYA MEMILIH PERCAYA

Saya memilih percaya.

Saya percaya PMKRI tidak kekurangan kader yang cerdas.

Tidak kekurangan kader yang berani.

Tidak kekurangan kader yang kritis.

Yang sedang diuji sekarang adalah sesuatu yang lebih tinggi:

Apakah kecerdasan cukup dewasa untuk berdialog?

Apakah keberanian cukup rendah hati untuk mendengar?

Apakah iman cukup kuat untuk menjaga persaudaraan?

Karena itu, kepada seluruh kader PMKRI:

Bertarunglah dalam gagasan, jangan bertarung dalam kebencian.

Pertahankan prinsip, jangan pertahankan ego.

Hormati proses, jangan kultuskan hasil.

Perjuangkan kebenaran, tetapi jangan kehilangan kasih.

Dan kepada sesama alumni, saya memilih untuk tidak menjadi bagian dari pusaran.

Bukan karena saya tidak peduli.

Justru karena saya masih percaya kepada kader PMKRI.

Biarkan PMKRI menyelesaikan persoalan PMKRI.

Biarkan kader membuktikan bahwa tiga benang merah itu bukan sekadar warisan kata-kata, melainkan karakter yang hidup:

Fraternitas yang tidak tumbang oleh perbedaan.

Intelektualitas yang tidak dikalahkan oleh emosi.

Kristianitas yang tidak kehilangan kasih di tengah pertarungan.

Karena pada akhirnya, PMKRI tidak membutuhkan pemenang yang hanya mampu mengalahkan saudaranya.

PMKRI membutuhkan kader yang mampu memenangkan kembali persaudaraan setelah perbedaan.

Pro Ecclesia et Patria.

Untuk Gereja.

Untuk Tanah Air.

Dan terutama, untuk tetap menjaga PMKRI sebagai rumah bersama.

Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *