Breaking News
03:21

Di Tuamese, Doris Rihi Menemukan Wajah Masa Depan Pariwisata NTT

Bagikan
Lihat Tersimpan

KEFAMENANU, NARATOR NTT, 25 September 2026 — Laut biru membentang di hadapan Desa Wisata Tuamese, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Gelombang kecil datang silih berganti, memecah di bibir pantai dan memantulkan cahaya matahari di permukaan air.

Namun, pada Kamis (24/9/2026), yang menarik perhatian bukan hanya panorama alamnya.

Di tempat itu, masyarakat sedang belajar melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar keindahan. Mereka mulai memandang potensi yang selama ini hidup berdampingan dengan keseharian mereka sebagai bagian dari peluang ekonomi masa depan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Drs. Doris Alexander Rihi, hadir langsung dalam kegiatan penguatan kapasitas ekonomi kreatif masyarakat Desa Wisata Tuamese.

Baca Juga : RAHASIA MANIS DARI TUAMESE! Saboak dan Nira Lontar Berubah Jadi Produk Unggulan Siap Tembus Pasar

Bagi Doris, suasana yang ia temukan di Tuamese memperlihatkan satu hal penting: masa depan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh seberapa indah sebuah destinasi, tetapi juga oleh seberapa kuat masyarakat di dalamnya mampu mengubah potensi menjadi nilai ekonomi.

“Saya melihat sesuatu yang luar biasa di Tuamese. Bukan hanya alamnya, tetapi semangat masyarakatnya. Mereka mengikuti pelatihan dengan antusias dan mulai melihat bahwa apa yang mereka miliki sebenarnya mempunyai nilai ekonomi yang besar,” ujar Doris.

Dok Foto: Paul S

BUKAN SEKADAR TEMPAT UNTUK BERWISATA

Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan. Tatapan peserta mengikuti materi pelatihan dengan serius, sementara senyum dan percakapan di antara mereka menunjukkan adanya harapan baru.

Pembahasan kemudian mengarah pada potensi lokal yang selama ini telah dikenal masyarakat, antara lain nira lontar dan saboak, yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah seperti gula semut dan dodol.

Pembicaraan pun tidak lagi berhenti pada bagaimana membuat sebuah produk.

Pertanyaan yang muncul mulai bergeser: bagaimana menjaga kualitasnya? Bagaimana mengurus legalitas? Bagaimana membuat kemasan yang menarik? Dan yang paling penting, bagaimana produk tersebut bisa menemukan pasar?

Menurut Doris, di situlah pembangunan ekonomi kreatif sesungguhnya dimulai.

Tuamese memiliki modal yang kuat. Keindahan alam menjadi daya tarik wisata, sementara produk masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang lebih utuh.

Keduanya, kata dia, harus dipertemukan.

“Kita tidak ingin wisatawan hanya datang, menikmati pemandangan, kemudian pergi. Harus ada interaksi dengan masyarakat dan ada produk yang bisa mereka bawa pulang. Dengan begitu, kunjungan wisatawan ikut menciptakan perputaran ekonomi di desa,” katanya.

Baca Juga : Dari Tuamese untuk TTU! Pemprov NTT Dorong Dodol dan Gula Semut Jadi Ikon Oleh-Oleh Daerah

DARI PANORAMA MENJADI PERPUTARAN EKONOMI

Cara pandang tersebut sejalan dengan agenda Dasa Cita Pemerintah Provinsi NTT, khususnya gagasan Pariwisata Penggerak Ekonomi Lokal, Dari Laut dan Ladang ke Pasar, serta One Village One Product.

Dalam pendekatan itu, destinasi wisata bukan menjadi tujuan akhir.

Destinasi justru menjadi pintu masuk untuk mempertemukan wisatawan dengan masyarakat, produk lokal, budaya, serta aktivitas ekonomi yang tumbuh di desa.

Karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat Tuamese diarahkan tidak hanya pada keterampilan produksi. Ada tahapan lanjutan yang tidak kalah penting, yakni penguatan legalitas dan perlindungan produk melalui Nomor Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT), hingga Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Langkah tersebut menjadi penting agar produk lokal tidak berhenti sebagai produk rumahan, tetapi memiliki peluang untuk berkembang dan menjangkau konsumen yang lebih luas.

SENYUM WARGA DAN HARAPAN PASAR

Ada satu hal yang mencolok dari kegiatan di Tuamese: optimisme warga tumbuh dari sesuatu yang konkret.

Mereka tidak sedang membicarakan potensi yang sama sekali baru. Mereka sedang belajar memberikan nilai tambah pada sesuatu yang selama ini sudah mereka miliki.

Nira lontar, saboak, alam, budaya dan kehidupan masyarakat desa perlahan ditempatkan dalam perspektif baru: sebagai bagian dari rantai ekonomi pariwisata.

Doris mengatakan, masyarakat harus ditempatkan bukan hanya sebagai pelengkap destinasi, tetapi sebagai pelaku utama dalam rantai nilai pariwisata.

“Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi pelaku di dalam destinasi, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata. Produk mereka harus naik kelas dan mempunyai peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas,” jelasnya.

Karena itu, keberhasilan sebuah program tidak semata-mata diukur dari terselenggaranya pelatihan.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pelatihan berakhir.

Apakah keterampilan itu dipraktikkan? Apakah produk mampu memenuhi standar? Apakah legalitasnya terpenuhi? Dan apakah akses pasar benar-benar terbuka?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut yang pada akhirnya akan menentukan seberapa jauh sebuah program pemberdayaan mampu menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga : Lahan Tidur Disulap Jadi Kebun Kreatif, Ketua DPRD NTT: ASN Parekraf Buktikan Inovasi Tak Harus Mahal

KETIKA DESA MULAI MELIHAT POTENSINYA SENDIRI

Di bawah langit terbuka Tuamese, proses itu berlangsung dalam suasana yang sederhana.

Laut tetap bergerak.

Gelombang tetap datang dan pergi.

Matahari tetap memantulkan cahaya di atas permukaan air.

Tetapi ada sesuatu yang berubah: cara masyarakat memandang apa yang mereka miliki.

Potensi yang selama ini mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mulai dilihat sebagai aset ekonomi kreatif.

Tuamese pun perlahan bergerak dari sekadar menawarkan pemandangan menjadi menawarkan pengalaman.

Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat laut, tetapi dapat berinteraksi dengan masyarakat, mengenal produk lokal, menikmati cerita di baliknya, lalu membawa pulang sesuatu yang dihasilkan dari desa tersebut.

Jika proses peningkatan kapasitas, legalitas, kualitas produk, pemasaran dan akses pasar terus berjalan, maka keindahan Tuamese tidak berhenti sebagai panorama.

Ia dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Dan di antara suara gelombang kecil, hamparan laut biru, serta senyum warga yang mengikuti pelatihan, wajah masa depan pariwisata NTT mulai terlihat dari sebuah desa: Tuamese. (Kontributor: Paul S.)

Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *