Selfi H. Nange: Sukses Ekonomi Harus Membuat UMKM, Pariwisata dan Ekonomi Lokal Ikut Bergerak
KUPANG, NARATOR — 21/10/2026- Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 di Nusa Tenggara Timur tidak boleh berhenti sebagai pesta olahraga yang meriah di stadion, sementara denyut ekonomi masyarakat hanya menjadi penonton.
Pesan itulah yang mengemuka menyusul pencanangan Sukses Ekonomi sebagai salah satu dari lima sukses PON 2028 yang dicanangkan Gubernur NTT, bersama Sukses Penyelenggaraan, Sukses Prestasi, Sukses Administrasi dan Sukses Pariwisata.
Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT, Selfi H. Nange, menyambut antusias pencanangan tersebut.
Menurut Selfi, memasukkan sukses ekonomi sebagai salah satu pilar utama PON merupakan langkah penting agar perhelatan olahraga nasional tersebut tidak hanya diukur dari suksesnya pertandingan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonominya dirasakan masyarakat NTT.
“PON 2028 jangan hanya ramai di stadion. Kita ingin setelah stadion ramai, pasar juga ramai; setelah pertandingan selesai, UMKM tetap bergerak; setelah kontingen pulang, wisatawan tetap datang; dan setelah PON berakhir, ekonomi masyarakat tetap tumbuh,” tegas Selfi.
Bagi Selfi, PON 2028 merupakan momentum besar yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Ribuan atlet, ofisial, pendamping, tamu, wisatawan, pelaku usaha, media dan masyarakat akan bergerak di NTT.
Mobilitas tersebut akan menciptakan kebutuhan terhadap akomodasi, transportasi, konsumsi, kuliner, jasa, produk kreatif, kerajinan, fesyen, perdagangan hingga berbagai kebutuhan pendukung lainnya.
Di titik inilah, menurut Selfi, pemerintah harus memastikan uang yang berputar selama PON tidak sekadar lewat di NTT, tetapi sebanyak mungkin menjadi nilai tambah yang tinggal dan berputar kembali di tengah masyarakat NTT.
“Jangan sampai kita hanya menjadi tuan rumah secara geografis, tetapi bukan tuan rumah secara ekonomi. Kalau PON berlangsung di NTT, maka pelaku ekonomi NTT harus mendapatkan ruang yang nyata untuk mengambil bagian,” ujarnya.
Jangan Sampai Produk Lokal Hanya Jadi Penonton
Selfi menegaskan, sukses ekonomi bukan sekadar membuat transaksi meningkat selama penyelenggaraan PON. Lebih jauh, PON harus menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas ekonomi lokal.
UMKM harus dipersiapkan. Produk lokal harus ditingkatkan kualitasnya. Pelaku usaha harus diperkuat dari sisi manajemen dan pemasaran.
Produk ekonomi kreatif harus memiliki daya saing. Sektor pariwisata harus mampu menangkap limpahan kunjungan. Bahkan rantai pasok kebutuhan PON sedapat mungkin harus membuka ruang bagi dunia usaha lokal.
“Kita tidak ingin produk-produk lokal hanya menjadi dekorasi di tengah pesta besar PON. Produk lokal harus masuk dalam rantai ekonomi PON. Pelaku usaha lokal harus menjadi pemain, bukan sekadar penonton,” kata Selfi.
Menurutnya, konsep tersebut harus dibangun sejak jauh hari. Jangan menunggu PON dimulai baru pemerintah sibuk mencari siapa yang bisa dilibatkan.
Perencanaan ekonomi PON harus dimulai sebelum pertandingan pertama digelar.
“Sukses ekonomi tidak bisa dibangun dengan cara mendadak. Kita harus memetakan dari sekarang: apa yang dibutuhkan, siapa yang bisa memasok, siapa pelaku usahanya, berapa kapasitas produksinya dan bagaimana memastikan standar kualitasnya. Jadi ketika PON tiba, masyarakat kita sudah siap mengambil peluang,” jelasnya.
Biro Perekonomian Siap Berkolaborasi
Sebagai perangkat daerah yang memiliki tugas dan fungsi di bidang perekonomian dan administrasi pembangunan, Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT, kata Selfi, siap mengambil bagian dalam memastikan agenda Sukses Ekonomi dapat diterjemahkan dalam langkah konkret.
Namun Selfi menyadari bahwa tugas tersebut tidak mungkin dikerjakan sendirian.
Menurutnya, sukses ekonomi membutuhkan orkestrasi lintas sektor, karena ekosistem ekonomi PON menyentuh begitu banyak sektor dan kepentingan.
“Kami siap bekereja sesuai tugas dan fungsi kami. Tetapi kami tidak bisa bekerja sendiri. Sukses ekonomi membutuhkan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dunia usaha, perbankan, UMKM, pariwisata, ekonomi kreatif, transportasi, perdagangan, perguruan tinggi dan seluruh stakeholder untuk bergerak dalam satu irama,” tegasnya.
Ia menyebut kolaborasi sebagai kunci. Pemerintah tidak cukup hanya membuat kebijakan, tetapi harus memastikan kebijakan tersebut terkoneksi dengan kebutuhan pelaku ekonomi di lapangan.
PON Harus Meninggalkan Warisan Ekonomi
Lebih jauh, Selfi menginginkan agar PON 2028 tidak hanya meninggalkan cerita tentang pertandingan dan prestasi olahraga, tetapi juga meninggalkan warisan ekonomi bagi NTT.
Warisan itu bisa berupa UMKM yang naik kelas, produk lokal yang masuk pasar nasional, tenaga kerja yang semakin terampil, jaringan usaha yang semakin luas, investasi yang tumbuh serta destinasi pariwisata yang semakin dikenal.
“PON jangan hanya meninggalkan medali. PON juga harus meninggalkan pasar, peluang usaha, jejaring bisnis, peningkatan kapasitas dan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Selfi, ukuran sukses ekonomi justru akan terlihat setelah PON selesai.
“Pertanyaan terpenting bukan hanya apakah PON sukses saat berlangsung.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah PON selesai. Apakah UMKM kita tumbuh? Apakah investasi bertambah? Apakah produk lokal semakin dikenal?
Apakah pariwisata mendapatkan pasar baru? Kalau jawabannya iya, maka kita sedang membangun warisan ekonomi dari PON,” katanya.
Karena itu, Selfi mengajak seluruh komponen masyarakat NTT mengubah cara pandang terhadap PON 2028.
PON bukan hanya agenda olahraga. PON adalah peluang pembangunan.
PON adalah momentum mempertemukan olahraga dengan ekonomi, pariwisata dengan investasi, UMKM dengan pasar, dan potensi lokal dengan jaringan nasional.
“Jangan kita lihat PON hanya sebagai lima belas hari atau beberapa pekan pertandingan. Lihat PON sebagai momentum untuk membuka pintu ekonomi NTT lebih lebar. Kita harus memastikan ketika pintu itu terbuka, pelaku ekonomi kita sudah siap masuk,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah harus hadir untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan masyarakat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari momentum tersebut.
“Sukses ekonomi bukan tentang berapa banyak uang yang dibelanjakan selama PON. Sukses ekonomi adalah tentang berapa banyak nilai tambah yang berhasil kita ciptakan dan berapa banyak masyarakat NTT yang ikut merasakan manfaatnya,” pungkas Selfi.
Dengan semangat tersebut, Sukses Ekonomi menjadi lebih dari sekadar satu poin dalam daftar lima sukses PON 2028. Ia harus menjadi komitmen agar pesta olahraga nasional di NTT benar-benar menjadi pesta masyarakat—bukan hanya di tribun dan arena pertandingan, tetapi juga di pasar, hotel, restoran, sentra UMKM, desa wisata, industri kreatif dan seluruh denyut ekonomi rakyat.
PON boleh berakhir. Medali boleh dibawa pulang. Tetapi ekonomi NTT harus terus bergerak. (Kontributor : Paul. S)





Tinggalkan Balasan