Breaking News
08:38

Koko-Cici NTT Jangan Hanya Jadi Mahkota: Pesan Melki Laka Lena, Jadilah Wajah yang Membawa NTT ke Dunia

IMG 20261023 WA00451
Bagikan
Lihat Tersimpan

KUPANG, Narator NTT, 23 Oktober 2026— Apa gunanya mahkota jika melalui panggung berakhir tidak ada karya yang ditinggalkan? Apa artinya predikat Koko dan Cici NTT jika popularitas hanya berhenti pada seremoni, foto bersama, dan kebanggaan sesaat.

Pertanyaan itulah yang menjadi inti pesan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, tentang pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pembangunan daerah. Pesan tersebut diteruskan dan dijabarkan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Doris Alexander Rihi, ketika menerima kunjungan Koko dan Cici NTT Tahun 2026 di ruang kerjanya, Jumat (23/10/2026).

Empat talenta muda, yakni Koko Alvin, Cici Jennie, Koko Ahean, dan Cici Bela, diterima Doris dalam suasana hangat dan penuh dialog.

Namun, pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi agenda protokoler. Lebih dari itu, pertemuan ini menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana prestasi, popularitas, dan kreativitas generasi muda dapat diubah menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan NTT, terutama melalui sektor pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.

Pesan yang mengemuka sederhana, tetapi mendasar: generasi muda jangan hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi harus ikut mengambil bagian dalam menentukan masa depan NTT.

Melki Laka Lena: Generasi Muda Harus Menjadi Bagian dari Pembangunan

Bagi Gubernur Melki Laka Lena, pembangunan NTT tidak boleh hanya menjadi panggung yang dimainkan pemerintah. Generasi muda harus mendapat ruang untuk terlibat, menyampaikan gagasan, mengembangkan kreativitas, dan mengambil tanggung jawab sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Semangat itulah yang dijabarkan Doris dalam dialog bersama Koko dan Cici NTT.

Doris menyampaikan kegembiraannya menerima amanah dari Gubernur untuk bertemu dengan para talenta muda tersebut. Menurutnya, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT memberikan apresiasi kepada generasi muda yang terus mengembangkan kemampuan dan menorehkan prestasi.

“Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur NTT sangat memberikan apresiasi kepada semua generasi muda NTT yang mengembangkan talentanya dan berprestasi,” ujar Doris.

Namun, apresiasi terhadap prestasi tidak seharusnya menjadi titik akhir. Justru, prestasi perlu menjadi pintu masuk untuk menghasilkan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

Doris juga menyampaikan bahwa Gubernur NTT tentu akan semakin senang apabila ajang Koko dan Cici NTT mampu memberikan kontribusi terhadap perwujudan visi dan misi Pemerintah Provinsi NTT.

Pesan ini menegaskan bahwa sebuah predikat bukan sekadar identitas atau simbol kebanggaan. Predikat harus menghadirkan tanggung jawab sosial.

Jangan hanya dikenal karena gelar yang disandang, tetapi dikenang karena karya dan kontribusi yang diberikan.

Doris Menerjemahkan Pesan Gubernur: Talenta Harus Menjadi Energi Pembangunan

Dalam konteks pariwisata dan ekonomi kreatif, Doris melihat Koko dan Cici NTT memiliki ruang strategis untuk memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas, termasuk audiens nasional dan internasional.

NTT memiliki kekayaan yang beragam. Ada Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, kampung-kampung adat, tenun ikat, tradisi, kuliner, musik, tari, serta berbagai produk kriya yang mencerminkan identitas dan kreativitas masyarakat.

Di berbagai wilayah, terdapat pula desa wisata, destinasi yang belum banyak dikenal, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terus mengembangkan produk lokal dengan segala keterbatasannya.

Potensi tersebut merupakan modal penting bagi pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif. Namun, potensi yang besar tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak diperkenalkan secara luas, dikelola dengan baik, dan dihubungkan dengan pasar.

Di sinilah generasi muda dapat mengambil peran.

Mereka tidak harus menunggu menjadi pejabat, mendapatkan proyek, atau memperoleh panggung resmi untuk berkontribusi. Ponsel di tangan mereka dapat menjadi alat untuk merekam keindahan destinasi. Media sosial dapat menjadi etalase budaya dan produk lokal. Sementara kreativitas, kemampuan komunikasi, dan jaringan pertemanan dapat menjadi modal untuk memperkenalkan NTT kepada dunia.

Dengan pendekatan tersebut, promosi pariwisata tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Masyarakat, komunitas kreatif, dan generasi muda juga dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk membangun citra positif NTT.

“My Trip My Tapaleuk”: Mengangkat Destinasi yang Belum Banyak Dikenal

Pesan tersebut mendapat respons positif dari Cici Jennie. Ia menyampaikan terima kasih atas kesempatan berdialog dan mengungkapkan semangat untuk ikut memperkenalkan keunggulan pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif NTT.

Jennie juga mengungkapkan bahwa komunitas Koko dan Cici NTT telah memiliki akun media sosial bernama “My Trip My Tapaleuk.”

Melalui platform tersebut, mereka mengeksplorasi berbagai destinasi yang belum banyak dikenal publik atau yang kerap disebut sebagai *hidden destination*.

Inisiatif ini memperlihatkan bahwa generasi muda memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam promosi pariwisata melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat digital.

Sebuah destinasi tidak selalu harus diperkenalkan melalui kampanye besar. Terkadang, video singkat tentang perjalanan menuju sebuah kampung, cerita mengenai tradisi masyarakat setempat, atau dokumentasi produk khas suatu daerah justru mampu membangkitkan rasa ingin tahu audiens.

Akan tetapi, eksplorasi tersebut akan lebih kuat apabila didukung informasi yang akurat, terarah, dan berkelanjutan.

Karena itu, Jennie berharap dapat memperoleh dukungan data dan informasi mengenai kepariwisataan NTT agar kegiatan eksplorasi destinasi dapat dilakukan secara lebih luas dan terarah.

Harapan tersebut membuka peluang kolaborasi antara pemerintah dan komunitas anak muda.

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memiliki akses terhadap data, informasi, program, dan jejaring kepariwisataan. Sementara itu, generasi muda memiliki kreativitas, kemampuan memproduksi konten, penguasaan media sosial, dan jaringan audiens yang beragam.

Jika kedua kekuatan ini dipertemukan, promosi pariwisata NTT dapat berkembang melampaui pola komunikasi satu arah. Pemerintah tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut menceritakan potensi daerah melalui perspektif dan kreativitas mereka sendiri.

Kolaborasi semacam ini berpotensi memperluas jangkauan promosi sekaligus membangun keterlibatan publik dalam pengembangan pariwisata NTT.

Doris Mempertegas: Jangan Berhenti pada Kontestasi

Doris tidak hanya mendorong Koko dan Cici NTT yang sedang mengikuti kontestasi tahun 2026. Ia juga mengharapkan keterlibatan para alumni yang telah bertumbuh, bertahan, dan memiliki kapasitas di bidang masing-masing.

Harapannya, mereka dapat mengambil bagian dalam pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif sesuai dengan kemampuan, profesi, serta jejaring yang dimiliki.

Pesan ini penting karena kontribusi seorang duta daerah tidak semestinya dibatasi oleh masa jabatan atau periode kontestasi.

Predikat Koko dan Cici mungkin memiliki masa tertentu. Namun, kepedulian terhadap daerah, semangat berkarya, dan tanggung jawab untuk memperkenalkan potensi NTT seharusnya dapat terus tumbuh setelah kontestasi berakhir.

Justru setelah mahkota dilepas, kontribusi sesungguhnya harus dimulai.

Semangat tersebut sejalan dengan seruan Gubernur Melki Laka Lena, “Ayo Bangun NTT.”

Seruan itu tidak semata-mata berbicara tentang pembangunan infrastruktur, program pemerintah, atau besarnya anggaran. Pembangunan juga membutuhkan partisipasi warga, kreativitas masyarakat, penguatan jejaring, dan keberanian untuk mengubah potensi menjadi peluang.

Dalam konteks Koko dan Cici NTT, semangat tersebut dapat diterjemahkan melalui sejumlah pertanyaan konkret.

Apa yang bisa diberikan kepada NTT melalui talenta yang dimiliki? Apa yang dapat diperkenalkan kepada publik melalui media sosial? Pelaku UMKM mana yang bisa dibantu agar produknya dikenal lebih luas? Destinasi mana yang perlu diangkat agar semakin banyak orang tertarik berkunjung?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kontribusi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Ia dapat dimulai dari kemampuan yang sudah dimiliki, jaringan yang sudah terbentuk, dan kesempatan yang tersedia hari ini.

Dengan demikian, “Ayo Bangun NTT” menjadi ajakan untuk bergerak bersama, bukan sekadar menunggu pemerintah bekerja.

Dari *Beauty Pageant* Menjadi *Beauty of NTT*

Pertemuan tersebut juga mengajak masyarakat melihat ajang Koko dan Cici NTT dari perspektif yang lebih luas.

Ajang ini tidak semestinya hanya dipahami sebagai kontes penampilan, kecantikan, ketampanan, atau popularitas. Ia juga dapat menjadi ruang pembentukan duta muda yang memiliki wawasan, kemampuan komunikasi, kepedulian sosial, dan keberanian memperkenalkan identitas daerah.

Kecantikan dan ketampanan dapat menarik perhatian. Namun, pengetahuan, karakter, kreativitas, dan kontribusi yang membuat seseorang memiliki dampak lebih panjang.

Dunia saat ini mengenal sebuah daerah bukan hanya melalui iklan resmi pemerintah. Dunia juga mengenalnya melalui cerita manusia, pengalaman perjalanan, dokumentasi budaya, dan kisah tentang kehidupan masyarakat setempat.

Satu video dapat membuat seseorang tertarik mengunjungi sebuah destinasi. Satu foto dapat memancing rasa ingin tahu tentang sebuah kampung. Satu cerita dapat memperkenalkan produk UMKM kepada calon pembeli baru.

Begitu pula satu konten kreatif dapat membawa tradisi lokal menjadi perbincangan yang lebih luas. Dalam ruang digital yang semakin terbuka, Koko Alvin, Cici Jennie, Koko Ahean, dan Cici Bela memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam proses tersebut.

Mereka dapat menjadi penghubung antara kekayaan lokal NTT dan masyarakat yang selama ini belum mengenalnya.

Namun, peran itu membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan tampil di depan kamera. Diperlukan kemauan untuk belajar, memahami konteks budaya, menghormati masyarakat setempat, serta menyampaikan informasi yang benar dan bertanggung jawab.

Dengan bekal tersebut, predikat Koko dan Cici dapat berkembang menjadi peran yang lebih substantif: bukan hanya duta dalam sebuah ajang, melainkan bagian dari gerakan memperkenalkan NTT.

Melki Menggelorakan, Doris Menjabarkan, Anak Muda Bergerak

Di sinilah pertemuan Koko dan Cici NTT dengan Doris Alexander Rihi menemukan makna strategisnya.

Gubernur Melki Laka Lena menggelorakan semangat pembangunan dan mendorong generasi muda mengambil bagian. Doris kemudian menjabarkan semangat tersebut dalam konteks kerja Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Gubernur mengajak masyarakat membangun NTT bersama-sama. Doris menunjukkan salah satu ruang konkret bagi generasi muda untuk berkontribusi: memperkenalkan destinasi, mengangkat budaya, mempromosikan produk lokal, dan memperluas jangkauan ekonomi kreatif.

Gubernur membuka ruang partisipasi. Doris mendorong agar ruang tersebut diisi dengan karya dan kolaborasi.

Hubungan antara gagasan dan pelaksanaan inilah yang penting dalam pembangunan daerah. Sebuah visi akan memiliki makna lebih besar ketika diterjemahkan menjadi kesempatan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Bagi generasi muda, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menyediakan ruang partisipasi yang luas. Mereka dapat terlibat sebagai pembuat konten, pemandu wisata, pelaku usaha kreatif, penggerak komunitas, promotor budaya, maupun mitra promosi bagi pelaku UMKM.

Bentuk kontribusinya dapat berbeda-beda. Namun, semuanya dapat diarahkan pada tujuan yang sama: memperkuat daya tarik NTT sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakatnya.

NTT Tidak Kekurangan Potensi, tetapi Potensi Harus Dihubungkan dengan Dunia

Pada akhirnya, pesan utama dari pertemuan tersebut adalah bahwa NTT memiliki banyak modal untuk berkembang, mulai dari keindahan alam, kekayaan budaya, produk ekonomi kreatif, hingga generasi muda yang bertalenta.

Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan semua potensi tersebut dengan masyarakat yang lebih luas, termasuk calon wisatawan, pasar produk lokal, dan jejaring kreatif di tingkat nasional maupun internasional.

Generasi muda dapat menjadi salam satu jembatan penting dalam proses tersebut.

Karena itu, Koko dan Cici NTT jangan berhenti sebagai nama yang terpampang pada mahkota atau gelar yang dibanggakan saat seremoni.

Jadilah wajah NTT, jadilah suara NTT, jadilah pencerita NTT.

Ceritakan kampung-kampung yang belum banyak dikenal. Perkenalkan budaya yang belum banyak diketahui. Promosikan produk lokal yang membutuhkan pasar lebih luas. Angkat kisah para pelaku ekonomi kreatif yang terus berkarya, meskipun belum banyak mendapat perhatian.

Lakukan semuanya dengan kreativitas, kejujuran, dan penghormatan terhadap identitas masyarakat setempat.

Tujuannya bukan sekadar membuat NTT terlihat indah di layar, melainkan membuat orang memahami kekayaan daerah ini, tertarik untuk berkunjung, dan terdorong untuk mendukung masyarakatnya.

Sebab, promosi pariwisata yang baik tidak hanya mendatangkan perhatian. Jika dikelola dan dihubungkan dengan pelaku usaha lokal, promosi juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Dari sinilah predikat Koko dan Cici dapat memperoleh makna yang lebih panjang daripada masa kontestasi.

Mereka tidak hanya menjadi representasi sebuah ajang, tetapi juga bagian dari upaya membangun citra daerah dan memperluas kesempatan bagi masyarakat NTT.

Pada akhirnya, pesan Gubernur Melki Laka Lena menemukan bentuk konkretnya melalui kerja sektoral yang dijabarkan Doris Alexander Rihi dan peluang kolaborasi yang terbuka bagi generasi muda.

Melki menggelorakan. Doris menjabarkan. Anak-anak muda bergerak.

NTT mendapatkan panggung.

Inilah salah satu cara menerjemahkan semangat “Ayo Bangun NTT”: bukan hanya membangun dengan beton dan anggaran, tetapi juga dengan gagasan, kreativitas, talenta, jejaring, dan keberanian generasi muda.

Sebab, membangun NTT bukan hanya tugas pemerintah. Membangun NTT adalah tanggung jawab bersama, dan setiap orang dapat memulainya dari apa yang dimiliki hari ini.

Ayo Bangun NTT. Jangan menunggu besok. Mulailah dari talenta yang ada di tangan kita hari ini..(Kontributor: Paul S.)

Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *