NEOBAUN – TTU NARATOR NTT – Rabu , 21 Oktober 2026 ||— Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pembangunan yang tidak berhenti di balik meja birokrasi, tetapi benar-benar turun menyentuh kebutuhan masyarakat di desa.
Komitmen itu diwujudkan melalui pelaksanaan Program Intervensi Perangkat Daerah dalam bentuk pemberdayaan masyarakat Desa Neobaun, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Gubernur NTT Melki Laka Lena tersebut menghadirkan dua intervensi sekaligus, yakni pelatihan pembuatan tas berbahan kain tenun bagi 100 peserta serta pemeriksaan kesehatan gratis bagi 150 peserta.
Bagi Gubernur Melki, dua kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial pemerintah. Keduanya merupakan bentuk nyata perhatian dan kehadiran pemerintah dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa pembangunan harus dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.
“Kegiatan pelatihan dan pemeriksaan kesehatan ini merupakan bentuk perhatian dan kehadiran pemerintah untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat.”
Menurutnya, pemberdayaan masyarakat harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia. Masyarakat tidak hanya membutuhkan ruang untuk meningkatkan pendapatan, tetapi juga membutuhkan akses terhadap pelayanan kesehatan yang mudah, dekat dan nyata.
Karena itu, intervensi di Desa Neobaun dirancang bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan dan nilai ekonomi produk masyarakat, tetapi sekaligus memperkuat kualitas hidup masyarakat.
Baca Juga: PON 2028 Jangan Cuma Ramai di Stadion, Rakyat NTT Harus Menang di Arena Ekonomi
Gubernur Melki menegaskan, seluruh ikhtiar tersebut menjadi bagian dari semangat besar untuk mewujudkan NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera dan berkelanjutan.
Tenun Jangan Berhenti Menjadi Kain
Semangat tersebut kemudian dijabarkan lebih jauh oleh Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT, Selfi H. Nange.
Menurut Selfi, kegiatan di Desa Neobaun merupakan bagian dari implementasi Dasa Cita, terutama gagasan “Dari Ladang dan Laut ke Pasar”, pengembangan One Village One Product (OVOP), serta penguatan peran milenial dan perempuan sebagai motor kreativitas lokal.
Selfi menegaskan bahwa kekuatan ekonomi desa tidak boleh berhenti pada kemampuan menghasilkan bahan atau produk mentah. Tantangan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut diberikan sentuhan kreativitas sehingga memiliki nilai tambah dan mampu menembus pasar yang lebih luas.
“Kita tidak ingin masyarakat hanya menghasilkan kain tenun lalu menjualnya begitu saja. Tenun harus diberikan nilai tambah.
Kain tenun bisa diolah menjadi tas, aksesori, produk fesyen dan berbagai produk kreatif lainnya yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” ujar Selfi.
Menurutnya, pelatihan pembuatan tas dari bahan kain tenun merupakan langkah kecil yang memiliki makna besar. Sebab, di balik selembar kain tenun terdapat identitas budaya, keterampilan tangan, kreativitas, sekaligus potensi ekonomi masyarakat.
Karena itu, yang hendak dibangun melalui kegiatan tersebut bukan semata-mata kemampuan membuat tas.
Lebih dari itu, pemerintah ingin membangun cara pandang baru masyarakat terhadap produk lokal.
“Jangan sampai kita hanya menjadi penghasil bahan baku, sementara nilai tambah dan keuntungan ekonominya justru dinikmati di tempat lain. Kita harus belajar mengolah, mengemas dan menjual produk kita sendiri,” tegasnya.
Dari Produk Lokal Menjadi Produk Bernilai Jual
Selfi mengatakan, Desa Neobaun memiliki modal sosial dan budaya yang kuat. Kain tenun yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat harus didorong naik kelas menjadi produk ekonomi kreatif yang mampu memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga.
Karena itu, pelatihan kriya tersebut diharapkan menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif di tingkat desa.
“Kalau sebelumnya kain tenun hanya dijual sebagai kain, sekarang kita dorong agar menjadi produk turunan. Ada tas, ada fesyen, ada aksesori, dan produk kriya lainnya. Dengan kreativitas, satu produk bisa melahirkan banyak produk baru,” jelas Selfi.
Ia menambahkan, pengembangan tersebut harus melibatkan perempuan dan generasi muda sebagai kekuatan utama kreativitas lokal.
Perempuan, kata dia, bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi merupakan pelaku utama ekonomi keluarga dan desa. Sementara generasi milenial memiliki kekuatan dalam desain, kreativitas, teknologi digital dan pemasaran.
“Perempuan dan anak-anak muda jangan hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi motor kreativitas desa. Tenun kita punya cerita, punya identitas dan punya nilai. Tugas kita adalah membuat nilai itu semakin besar dan mampu masuk ke pasar,” katanya.
Kesehatan: Pemerintah Tidak Hanya Mengurus Ekonomi
Pada saat yang sama, Selfi menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari pembangunan kesehatan masyarakat.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan gratis bagi 150 masyarakat Desa Neobaun menjadi bagian penting dari intervensi pemerintah.
“Kalau kita berbicara tentang kesejahteraan, jangan hanya berbicara tentang pendapatan. Masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang ekonominya bergerak tetapi juga sehat.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan gratis ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah yang langsung dirasakan masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Selfi, layanan kesehatan yang hadir di tengah masyarakat juga memiliki pesan penting bahwa pemerintah tidak hanya datang ketika membutuhkan data, laporan atau capaian program.
Pemerintah harus hadir ketika masyarakat membutuhkan.
“Pemerintah harus hadir bukan hanya untuk membuat program, tetapi memastikan program itu menjawab kebutuhan masyarakat. Hari ini kita bicara tentang ekonomi kreatif, tetapi kita juga bicara tentang kesehatan.
Karena masyarakat yang sehat adalah modal utama untuk membangun ekonomi desa,” ujarnya.
Membangun Desa dari Potensi yang Sudah Dimiliki
Selfi menegaskan, pembangunan Desa Neobaun tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang baru.
Justru, pembangunan dapat dimulai dari apa yang sudah dimiliki masyarakat.
Tenun sudah ada. Keterampilan sudah ada. Tradisi sudah ada. Perempuan sebagai pelaku ekonomi sudah ada. Generasi muda dengan kreativitasnya juga sudah ada.
Yang diperlukan adalah intervensi pemerintah untuk menghubungkan potensi tersebut dengan kreativitas, teknologi, pasar dan pembiayaan.
“Inilah esensi Dasa Cita. Kita tidak datang membawa sesuatu yang asing bagi masyarakat. Kita melihat apa yang sudah mereka miliki, lalu kita bantu agar potensi itu mempunyai nilai tambah dan mampu memberikan kesejahteraan,” kata Selfi.
Baca Juga: 157 Atlet PeSONas Jawa Barat Tiba, Doris Rihi: Tunjukan NTT itu Ramah bukan Sekedar Slogan
Dengan pendekatan tersebut, pemberdayaan masyarakat tidak lagi dipahami sebagai kegiatan sesaat yang selesai ketika pelatihan berakhir.
Sebaliknya, pelatihan harus menjadi titik awal lahirnya pelaku ekonomi kreatif baru di desa.
Dari selembar kain tenun menjadi sebuah tas, dari keterampilan menjadi produk, dari produk menjadi nilai tambah, dari nilai tambah menjadi pendapatan dan dari pendapatan itulah kesejahteraan masyarakat dibangun.
Desa Neobaun sedang menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang-kadang, pembangunan dimulai dari selembar kain tenun, sepasang tangan yang mau belajar, dan pemerintah yang memilih untuk hadir.
Di sanalah wajah pembangunan NTT menemukan maknanya: potensi lokal tidak dibiarkan menjadi warisan semata, tetapi diubah menjadi kekuatan ekonomi; masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama;
Pemerintah tidak sekadar hadir dalam kata-kata, tetapi hadir melalui kerja yang dirasakan langsung oleh rakyat. (Kontributor : Paul. S)





Tinggalkan Balasan