KUPANG, NARATOR NTT – 14 OKTOBER 2026|| — Sebanyak 157 atlet dan ofisial kontingen Jawa Barat tiba di Kota Kupang untuk mengikuti Pekan Special Olympics Nasional (PeSONas) II 2026. Kehadiran mereka bukan sekadar menambah jumlah peserta dalam sebuah ajang olahraga nasional, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Nusa Tenggara Timur untuk menunjukkan wajah sesungguhnya: daerah yang terbuka, ramah, dan menghargai setiap manusia tanpa membedakan keterbatasan.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui sinergi lintas perangkat daerah turut mendukung penyambutan kontingen. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT mengambil bagian dalam upaya membangun pengalaman kedatangan yang berkesan bagi para atlet dan ofisial yang akan berada di Kota Kupang selama penyelenggaraan PeSONas II 2026.
Baca Juga : Dari Jabar ke Kupang! Disparekraf NTT Sambut 157 Atlet dan Ofisial untuk PeSONas II 2026
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Drs. Doris Alexander Rihi, menegaskan bahwa keberhasilan menjadi tuan rumah tidak cukup diukur dari kelancaran pertandingan, kemegahan acara pembukaan, atau tersedianya fasilitas olahraga.
Ada ukuran lain yang tidak kalah penting: bagaimana setiap tamu diperlakukan dan pengalaman apa yang mereka bawa pulang setelah meninggalkan NTT. “Keramahan NTT harus dirasakan, bukan sekadar diucapkan. Setiap atlet dan ofisial yang datang adalah tamu yang harus kita sambut dengan hormat, kita layani dengan baik, dan kita perlakukan secara bermartabat. Mereka harus merasakan bahwa NTT adalah rumah yang terbuka bagi semua,” tegas Doris.
PeSONas Bukan Sekadar Mengejar Medali
Bagi Doris, PeSONas II 2026 memiliki makna yang melampaui persaingan di arena olahraga. Ajang ini menghadirkan pesan tentang kesempatan, keberanian, penghargaan terhadap potensi manusia, dan pentingnya membangun ruang yang inklusif bagi penyandang disabilitas intelektual.
Menurutnya, para atlet yang datang ke Kupang tidak boleh hanya dipandang sebagai peserta kompetisi. Mereka adalah individu yang memiliki kemampuan, semangat, cita-cita, serta hak yang sama untuk memperoleh penghormatan dan kesempatan menunjukkan potensi terbaiknya.
“PeSONas mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki potensi yang patut dihargai. Karena itu, penyelenggaraan kegiatan ini harus tercermin pula dalam sikap kita sehari-hari. Jangan hanya merayakan inklusivitas di arena pertandingan, tetapi menghadirkannya dalam cara kita menyambut, melayani, dan menghormati setiap peserta,” ujarnya.
Doris menekankan bahwa keramahan bukan sekadar senyum saat menyambut tamu. Keramahan harus hadir dalam pelayanan yang responsif, komunikasi yang santun, lingkungan yang nyaman, serta kesediaan memahami kebutuhan setiap orang.
Sebab, sebuah daerah tidak hanya dikenang karena tempat-tempat indahnya. Daerah juga dikenang karena cara masyarakatnya memperlakukan orang yang datang berkunjung.
Dari Arena Olahraga Menuju Promosi Pariwisata NTT
PeSONas II 2026 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 menjadi momentum bagi NTT untuk memperlihatkan bahwa pariwisata bukan hanya tentang destinasi, panorama alam, atau promosi di berbagai media. Pariwisata juga tentang pengalaman manusia, kualitas pelayanan, dan kesan yang tumbuh dari interaksi langsung antara tamu dan tuan rumah.
Kehadiran ratusan atlet dan ofisial dari berbagai daerah membuka ruang bagi Kota Kupang dan NTT untuk memperkenalkan kekayaan kuliner, budaya, produk ekonomi kreatif, serta karakter masyarakat yang dikenal dengan tradisi menerima tamu.
Para peserta akan berinteraksi dengan masyarakat, menggunakan layanan akomodasi, menikmati kuliner lokal, dan menyaksikan kehidupan Kota Kupang.
Setiap pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari cerita mereka tentang NTT.
Doris memandang pengalaman langsung sebagai salah satu unsur penting dalam membangun citra pariwisata.
Promosi yang efektif tidak selalu harus hadir dalam bentuk kampanye besar. Pengalaman positif yang diceritakan kembali oleh pengunjung juga dapat memperluas pengenalan terhadap suatu destinasi.
“Ketika para peserta kembali ke daerah masing-masing, mereka akan membawa cerita tentang NTT. Tugas kita adalah memastikan bahwa cerita itu lahir dari pengalaman yang baik: pelayanan yang ramah, suasana yang nyaman, masyarakat yang terbuka, dan penghormatan terhadap setiap tamu,” katanya.
Ia menambahkan, menjadi tuan rumah berarti memikul tanggung jawab untuk menjaga kesan yang ditinggalkan. Sebab, keramahan yang dirasakan seseorang dapat menjadi pengalaman personal yang jauh lebih bermakna daripada sekadar membaca promosi sebuah destinasi.
Pariwisata Inklusif Harus Menjadi Sikap Nyata
Bagi Disparekraf NTT, penyelenggaraan PeSONas II 2026 juga menjadi pengingat bahwa pengembangan pariwisata harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap martabat manusia.
Pariwisata inklusif tidak berhenti pada penyediaan akses atau fasilitas. Ia juga menuntut perubahan cara pandang, agar setiap orang dapat berpartisipasi, menikmati pengalaman wisata, dan memperoleh pelayanan tanpa menghadapi perlakuan yang merendahkan.
Baca Juga : Ruang Pertemuan Sasando: Sang Legenda yang Kembali Menjadi Pilihan
Dalam konteks ini, para atlet Special Olympics mengajarkan pesan penting: keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi penghargaan, kesempatan, maupun ruang partisipasi seseorang.
“NTT memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, kekayaan itu harus berjalan bersama karakter masyarakat yang menghargai sesama. Kita ingin setiap orang yang datang ke NTT merasa aman, nyaman, diterima, dan dihormati,” ungkap Doris.
PeSONas II 2026 mempertandingkan tujuh cabang olahraga, yakni Bocce, Renang, Bulu Tangkis, Futsal, Atletik, Tenis Meja, dan Ritmik, di sejumlah lokasi pertandingan di Kota Kupang.
Pemerintah Provinsi NTT melalui perangkat daerah terkait terus mendukung penyelenggaraan kegiatan ini sesuai dengan peran dan kewenangan masing-masing, termasuk dalam aspek pelayanan, fasilitasi, dan dukungan terhadap pengalaman para kontingen selama berada di daerah ini.
NTT Ingin Dikenang karena Cara Menerima Tamu
Kedatangan 157 atlet dan ofisial Jawa Barat menjadi bagian dari perjalanan PeSONas II 2026. Namun, bagi NTT, makna kegiatan ini tidak seharusnya berakhir ketika pertandingan selesai dan para kontingen kembali ke daerah asal.
Yang lebih penting adalah nilai yang tertinggal: tumbuhnya kesadaran tentang inklusivitas, meningkatnya kualitas pelayanan, serta semakin kuatnya komitmen untuk menjadikan pariwisata sebagai ruang perjumpaan yang menghargai manusia.
Doris menegaskan bahwa keramahan harus menjadi tanggung jawab bersama.
Pemerintah, pelaku usaha pariwisata, penyedia jasa akomodasi, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat memiliki peran dalam membangun pengalaman positif bagi setiap pengunjung.
“Jangan sampai kita sibuk menyebut NTT sebagai daerah yang ramah, tetapi tamu tidak merasakan keramahan itu dalam pelayanan yang mereka terima.
Mari kita buktikan melalui tindakan nyata, mulai dari hal-hal sederhana, tetapi berdampak langsung bagi mereka yang datang,” tegasnya.
Pada akhirnya, PeSONas II 2026 bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang meraih medali. Ini juga tentang bagaimana sebuah daerah membuka pintunya, menghormati keberagaman, dan memberikan tempat yang layak bagi setiap orang.
Sebab, keberhasilan menjadi tuan rumah bukan hanya ketika para atlet datang untuk bertanding, melainkan ketika mereka pulang dengan kenangan bahwa di NTT, mereka bukan sekadar tamu—mereka diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari sebuah pengalaman kemanusiaan. (Kontriburor : Paul. S)






Tinggalkan Balasan